Pengalaman Melahirkan di Bidan Delima
Pengalaman melahirkan di bidan delima bagi saya adalah pengalaman yang cukup menyenangkan. Alhamdulillah bulan Juli lalu lahir putra kami yang kedua dibantu bu bidan Maimunah, Winongan.
Pada kehamilan pertama putri saya lahir di RSUD Raci, menggunakan jampersal jadi semua biaya tercover alias gratis. Pada kehamilan kedua ini putra saya lahir di bidan delima. Sebenarnya saya memiliki kartu BPJS namun faskes 1 di Jogja dan belum sempat ganti faskes di Pasuruan, sehingga biaya persalinan full bayar sendiri.
Sore itu, selepas ashar saya berniat memeriksakan kehamilan di bidan Maimunah karena beliau lah yang membantu persalinan adik ipar saya seminggu sebelumnya. Jadi saya berfikir untuk memeriksakan kehamilan disana karena track record beliau cukup baik.
Berangkatlah saya, gendhuk, ibu dan bapak mobilan ke sana. Sampai di bidan sekitar pukul 16.30 langsung diukur berat badan, di tensi dan dicatat di buku KIA. Namun asisten bu Maimunah bilang kalau beliaunya sedang habis dari perjalanan jauh jadi belum bisa memeriksa pasien. Saya ditawari periksa dengan menantunya, karena bu Maimunah kemungkinan baru akan datang ke klinik malam hari.
Saya pun menanyakan hal ini pada ibu saya, dan memilih diperiksa saat itu juga tanpa menunggu bu Maimunah. Eh, alhamdulillah tidak lama bu Maimunah datang. Ternyata rumah beliau pas diseberang jalan dengan tempat prakteknya. Masyaalloh, baru tahu saya. Hehhehe.. Akhirnya saya pun diperiksa langsung oleh beliau.
Saya ditanya bagaimana riwayat melahirkan sebelumnya serta keluhan-keluhan selama masa kehamilan. Hingga akhirnya beliau memutuskan untuk pemeriksaan dalam. Ternyata saya sudah bukaan 2 dan kepala baby sudah teraba. Karena ada riwayat ketuban pecah dini dan pada kehamilan kedua ini keputihan cukup parah, beliau memutuskan agar saya langsung ngamar malam itu juga.
Antara kaget, senang dan khawatir saya menyampaikan hal tersebut pada ibu dan bapak. Alhamdulillah persiapan tas melahirkan sudah saya bawa di mobil. Saya nitip gendhuk sama ibu dan bapak. Sedih, karena waktu itu gak didampingi suami karena beliau sedang tugas luar kota. Tapi, Bismillah yah pasrah aja gitu sama Alloh.
Saya langsung diminta ganti pakaian yang berkancing depan dan jarik/ sarung (karena saat itu memakai gamis). Lantas rebahan ditempat tindakan khusus melahirkan (bed yang ada troli dan pengaturan tinggi kepala*ga tahu namanya). Awalnya disuntik untuk tes alergi, kemudian diinfus plus dimasukkan antibiotik karena keputihan yang saya alami cukup parah dan dikhawatirkan mempersulit jalan lahir.
Saya pun disuruh rebahan. Sekitar habis maghrib saya makan malam (lalapan ayam goreng*penting yah) lantas ke kamar mandi buang air kecil sambil bawa infus. Habis isya asisten bu Maimunah kembali menyuntikkan sesuatu yang katanya untuk induksi/ perangsang kontraksi. Sambil menyuruh saya rebahan ke samping kiri agar kondisi kandungan terjaga dan lebih mudah kontraksi.
Saya tidak merasakan apa-apa saat itu. Alhamdulillah saat ibu masuk ke ruangan bersalin masih sempat saya mohon maaf padanya, titip maaf juga untuk bapak dan titip gendhuk selama saya bersalin. WA-an dengan mbakyu saya mohon maaf padanya dan kakak. Alhamdulillah sempat baca rotibul hadad singkat di aplikasi smartphone biar makin tenang.
Saat itu ingat suami juga yang lagi tugasan di luar kota kebetulan di kalimantan dan tidak bisa dihubungi karena sedang di hutan ga ada sinyal (hingga kemudian baru sekitar 2 minggu suami baru bisa menelfon). Di sms ga bisa, telpon ga bisa, WA juga ga bisa. Subhanalloh Alloh ngasih saya kesempatan seperti ini. Bismillah dah.
Sebentar ibu masuk sambil membawa botol teh pucuk yang sebenarnya berisi teh rumput fatimah (ini rumput fatimah saya beli waktu hajian tahun lalu, ternyata saya pakai sendiri). Ibu yang membuatkannya dengan intruksi dari embak saya. Namanya juga ikhtiar, Bismillah saya minum sambil yakin pertolongan Alloh agar dimudahkan.
Sekitar pukul 23.30 saya merasakan mulas tak terkira. Saya tahan sambil istighfar. Mulasnya datang hilang datang dan hilang lagi terus durasinya pun semakin sering. Saat itu rasanya kok lama yah mulesnya, sambil pengen nangis mohon ampunan Alloh. Alhamdulillah pukul 12.30 sudah bukaan penuh dan anak kedua saya lahir.
Sewaktu mengejan saya dibantu 5 orang lho. Bu Maimun, menantunya yang juga bidan, 2 asistennya, 1 dukun bayi yang bekerja di bu Maimun. Yang paling heboh nih mbah dukun bayi yang paling sepuh soalnya. Ngewanti-wanti jangan sampai ngangkat bokong saat mengejan biar nanti ga ada jahitan.
Masyaalloh, ga ngangkat bokong saat mengejan itu memang susah lho. Alhamdulillah terus diingatkan sama beliau-beliau ini, hingga setelah melahirkan tidak ada jahitan. Hanya lecet sedikit yang diberi betadine.
Setelah melahirkan bayi saya langsung ditaruh di atas dada dengan tali pusar masih belum dipotong. Saya agak geli juga karena tali pusarnya terasa memanjang diletakkan di atas perut saya. Sebenarnya saya bingung, kalau ini IMD tapi kok bayinya dihadapkan ke depan ga hadap saya. Ya sudah saya peluk saja, sambil bu bidan membereskan peralatan untuk membantu melahirkan tadi.
Bapak saya masuk dan mengadzani serta mengiqomati putra saya, lalu keluar lagi. Dan tak lama bayi saya diambil untuk dibersihkan (tidak dimandikan) dan diberi pakaian yang saya bawa sendiri dari rumah. Beberapa saat setelah diberi pakaian plus dibedong, bayi saya ditidurkan di box (saya bisa melihatnya karena semua dilakukan dalam satu ruangan). Ibu masuk dan menyuapi saya nasi karena habis melahirkan rasanya lemas dan lapar. Alhamdulillah, semoga ibu dan bapak diberikan panjang umur yang berkah dunia akhirat.
Setelah semuanya selesai beberes, mereka kembali tidur hingga subuh. Ketika bayi saya menangis terus, mbah dukun bayi sudah akan bikinkan susu formula. Alhamdulillah mereka menanyakan dulu untuk diberi susu formula atau langsung disusui sendiri. Sayapun meminta agar bayi saya ditidurkan disamping saya sambil saya susui. Alhamdulillah langsung bisa meski ASI keluar sedikit-sedikit dan akhirnya dia tertidur di samping saya.
Hingga adzan subuh dan menjelang pagi, saya tidak bisa benar-benar tidur padahal rasanya badan lelah sekali. Baru pukul 06.00 saya sarapan, bayi saya dimandikan dan saya pun mandi (alhamdulillah bisa ke kamar mandi sendiri, walaupun setelahnya terasa agak pusing).
Setelah bayi saya disuntik HB 0, sekitar pukul 09.00 kami pulang. Sebelumnya saya banyak berkonsultasi dengan asisten bu bidan sambil menunggu nota pembayaran persalinan total 1.200ribu. BPJS saya tidak laku karena belum berganti faskes di Pasuruan. Alhamdulillah, sebenarnya biaya ini bisa dikatakan sangat murah dengan pelayanan komplit seperti itu, mungkin karena kami di desa yah.
Saya mendapatkan surat lahir sementara dari bidan yang nantinya diurus untuk mendapatkan akta lahir. Surat lahirnya berisi data lengkap kelahiran dan dibaliknya ada cap kaki bayi.
Ketika sampai di rumah semuanya dalam keadaan capai dan tertidur. Hingga menjelang ashar datang dukun pijat bayi yang kami mintai tolong untuk memandikan bayi, karena kondisi saya belum kuat betul. Saya merasa sangat tertolong. Budhe tacik (dukun bayi) sangat membantu saya dengan memandikan dan memijat bayi. Saat malam hari bayi saya Alhamdulillah tidak rewel.
Seminggu pertama saya hampir tidak melakukan apapun. Baru setelah 7 hari saya memulai aktivitas mencuci dan setrika. Saya merasa sangat berbeda dengan saat melahirkan pertama kali. Sekarang sih menjadi lebih tenang, lebih bisa menghandle bayi. Ini pasti pertolongan Alloh dan karena pengalaman saat melahirkan anak pertama dulu tentunya.
Alhamdulillah maturnuwun Yaa Alloh..
2 komentar
alhamdulilah selamat mba akupun sedang hamil 5 bulan semoga bisa melahirkan kembali normal dan lancar aamiin :) murah banget y mba di bidan biayanya
BalasHapusAlhamdulillah mbak herv.. Iya memang di bidan desa harganya cukup terjangkau mbak. Apalagi yg pakai kartu KIS udah dikasih gratis aja sama bidannya 😇😇
HapusTapi aq alhamdulillah banget juga mba herv, soalnya dgn kondisi yg sama saat melahirkan yg pertama, melahirkan yg kedua ini ga pakai dirujuk ke RS.
Subhanalloh kalo dirumah sakit mba, keluarga ga boleh nemenin dan satu ruangan diisi banyak orang (dulu jampersal emang saya). Makanya pas bisa di bidan dan alhamdulillah lancar.. Saya bersyukur sekali sama gusti Alloh..