­

Tugu Jogja (dpps.blogspot.com) Jogja itu buat saya kini menjadi bagian tersendiri dalam tiap harapan. Jika dulu pergi ke Jogja hanya unt...

Jogja dan harapan saya

By 09.45 , ,

Tugu Jogja (dpps.blogspot.com)
Jogja itu buat saya kini menjadi bagian tersendiri dalam tiap harapan. Jika dulu pergi ke Jogja hanya untuk study tour dan sambang malioboro, maka sekarang saya lebih serius dengan mulai berdomisili di sini. Jogja menjadi tempat untuk saya dan suami memulai kehidupan baru kami. Di sini lah suami mendapatkan teman-teman nya lagi, di sini pula dia memulai bekerja dengan penuh tanggung jawab sebagai suami (loh kug cerita tentang suami?, trus saya?)., dan saya tentu saja mengikuti kemana suami pergi (alibi!, haha.).


Sebelumnya saya bekerja di Disnakersostrans Kab.Pasuruan, sebagai tenaga kontrak bursa kerja on-line. Pekerjaan saya saat itu membuatkan kartu AK1 on-line alias kartu kuning (padahal warnanya putih), mengobrol dengan para pencari kerja, membuat laporan bulanan/ tahunan, jadi fotografer, edit foto, gunting foto, bikin pengumuman lowongan kerja, mencatat daftar perusahaan, mengisi log book manual, pergi ke Disnaker Pusat di Surabaya untuk mengambil gaji, dst (ahh, kenapa hal macam ini saya tulis?). Tapi yang terpenting, saya sangat bersyukur karena saat dipanggil wawancara kerja, bahkan saya tidak pernah mengajukan lamaran. Karena saat itu Disnaker memang butuh tenaga (kug ya pas saya nganggur). Jadi kerja singkat itu pun saya ingat dengan baik.

Selepas dari Disnaker dan menikah, saya melamar ke Angkasa Pura I sebagai Junior ATC dan mengikuti tahap seleksi di Surabaya hingga akhir dan saya lolos sebagai pegawai cadangan (semacam tidak lolos di tahap yang paling akhir, sedang orang API terlalu baik dengan menyebutkan lolos sebagai cadangan). Dan, di saat yang hampir bersamaan saya pun kehilangan janin pertama saya (Innalillahi wainnailaihi raajiun). Subhanalloh, perjalanan rumah (masih di Pasuruan) dan tempat tes saat itu memang penuh perjuangan, karena kemacetan lapindo yang sedemikian rupa. Namun Alhamdulillah tentu ini yang terbaik, semoga Alloh mengganti dengan yang lebih baik.

Lantas beberapa bulan kemudian saya melamar ke Bank Muamalat - MODP. Alhamdulillah bisa ikut seleksi sampai presentasi akhir di Jakarta. Hampir saja saya berangkat ke Jakarta untuk presentasi, kecuali ada perubahan kabar bahwa tes kesehatan saya gagal. Eniwei, saya sungguh mengetahui jawabannya. Karena Subhanalloh saya justru mendapatkan rizki yang lebih besar lagi dengan kehamilan kedua saya (tentu anda tahu mengapa hasil tes kesehatan itu berubah begitu saja khan?hehe).

All of this, membuat saya berfikir begitu banyak. Saya ingin bekerja, namun tentu saja tak ada perusahaan yang menampung wanita hamil (ahh pasti karena terlalu seksi deh:)). Dan kini saya memutuskan untuk stay di rumah sebagai IRT.

Tentang menjadi IRT adalah gampang-gampang susah. Gampangnya adalah saya punya 'me time' yang luar biasa panjang. Terlebih pada masa kehamilan ini, dimana kondisi tubuh sering berubah-ubah. Jadi Alhamdulillah yah, 'sesuatu'!

Tetapi seiring berjalan waktu dan tentu ketika saya sudah tinggal di Jogja ini, yang kemudian saya ketahui adalah 'be a pure housewife isn't like a good choice' buat para wanita Jogja. Saat di lingkungan rumah, di pasar, bahkan periksa ke bidan mereka benar memandang sebelah mata pengangguran seperti saya (hey, i just like hvn't another choices :(.). Sedih sih, iya. Tapi saya ingin mencoba segala kemungkinan yang bisa saya lakukan sebagai IRT, berharap paling tidak bisa membantu suami menambah penghasilan keluarga (Aamiin yaa Alloh). Maybe dengan memulai dari nulis curcol di blog ini kali yah? Saya akan memulai sesuatu yang baru untuk segala kemungkinan perbaikan kualitas hidup saya. Aamiin (lagi).

You Might Also Like

0 komentar