­

Pagi itu terasa begitu segar karena ternyata aku tidur lebih awal. Yah, biasanya aku tidur begitu larut saat teman-teman satu asrama sudah...

Sruput Cicak

By 10.56 , , ,


Pagi itu terasa begitu segar karena ternyata aku tidur lebih awal. Yah, biasanya aku tidur begitu larut saat teman-teman satu asrama sudah terlelap ke alam bawah sadar mereka masing-masing. Dan jika sudah begitu larut, maka keesokan paginya mata dan bahu terasa layu. Tapi entah mengapa setiap masa ujian aku merasa bertanggung jawab untuk bisa tidur lebih larut. 

Aku sadar telah tidur lebih awal dari biasa, karena secangkir kopi di lekukan dinding kamar masih terlihat isinya. Kertas yang menutupi dua pertiga mulut cangkir juga masih terganjal bolpoint snowman. Tiba-tiba saja aku merasa haus dan segera menggenggam pegangan cangkir kopi. Serta merta kertas dan bolpoint tergeser dan jatuh di atas bedcover yang masih menyelimuti kaki. 

Perlahan isi cangkir terseruput bibir. Ternyata kopi sudah dingin. Ah, tentu saja kopi panas yang kuseduh semalam telah menjadi dingin. Tapi sayang sekali jika dibuang. Harga 2 sachet kopi bagi anak asrama cukup untuk membeli makan siang di kantin saat jam istirahat. Lamat-lamat kuseruput, kopi dalam cangkirpun berkurang. Hmm, rasa kopi toh tidak berbeda jauh antara yang panas dan yang dingin. Bedanya hanya saat menyeruput. Jika kopi panas, pelan-pelan. Jika dingin, yah bablas tertelan.

Kopi 3in1 panas (sumber)
Sudah sepertiga cangkir hasil seruputan kopiku. Tiba-tiba aku merasa enggan, karena biasanya jika meminum kopi terlalu pagi dan aku belum sarapan pasti maagku kambuh. Tapi, lag-lagi aku teringat harga kopi sachet. Ah, manamungkin aku melewatkan kopi 3in1 ini. Meski sesungguhnya kopi yang kuseduh kemarin malam ini adalah tentengan dari ibu saat menyambangiku minggu lalu. Kopi 3in1 ini adalah kesukaanku. Bagiku dia- maksudku kopi, yang telah bercampur gula dan krimer sehingga namanya menjadi berembel-embel 3in1 adalah minuman super maknyos. Aku hampir tidak pernah menolak saat ibu-biasanya saat di rumah menawariku untuk dibuatkan secangkir kopi 3in1 ini. Apalagi jika diminum sejenak dua jenak seusai diseduh. Wuih, rasanya begitu membuai angan. Tenggorokan dan lambung langsung terasa hangat. Kopi dengan krimer ini pula bagiku serasa cokelat. Entah mungkin karena warnanya yang begitu cokelat atau kandungan kafein antara cokelat dan kopi plus krimer yang aku minum ini mungkin hampir sama.

Kembali pada kopi dinginku. Akhirnya meski dengan mengabaikan ingatan akan sakit maag jika minum kopi sebelum sarapan, akupun melanjutkan seruputanku pada dua pertiga sisa kopi. Lagi-lagi aku meminumnya dengan perlahan. Berharap masih ada sisa kenikmatan seduhan panas semalam. Akan tetapi, ah mungkin perasaanku saja. Tapi mana mungkin? Kuseruput lagi kopi dinginku. Tapi, bibirku tak pernah salah. Ada benda padat dalam kopi yang menyentuh permukaan lembut ujung bibirku. Tapi apa? Aku coba menyangkal semua pradugaku. Lantas jika aku menyangkalnya, apa aku terbebas dari rasa bersalah meminum kopi ini?

Kau tahu? Dalam pradugaku, aku langsung membayangkan hewan yang paling nggilani sejagad, tapi yang juga yang paling eksis dimanapun. Apa itu? Kau tahu? Hewan itu adalah cicak. Hewan paling mau tahu apapun yang kau letakkan di atas meja makan, bahkan saat kau telah menutupi makanan dengan tudung saji. Ah, cicaklah yang kutuduh sebagai padatan dalam kopi dinginku pagi ini. 

Cara mudah menghapuskan cicak dirumah
Bayangkan saja ini cicak Betulan (sumber)

Lantas akupun tak lagi melanjutkan seruputanku, untuk kemudian dengan sangat berat hati memiringkan cangkir kopi yang isinya sudah tinggal sepertiga itu. Kau tahu? Tidaaaaaaaaaaaaaakkk!! Apa yang aku bayangkan dalam pradugaku tadi adalah benar adanya. Seekor cicak berukuran kecil tapi bukan bayi, telah memerawani kopiku bahkan sebelum kubuka penutup kertasnya.
Aku langsung hendak muntah. Bayangkan saja kau minum kopi bercampur bangkai cicak, yang meski mungkin cicak itu awalnya bukan sebagai bangkai. Tapi mungkin cicak itu tak dapat berenang. Dan kau pasti tahu kesudahannya. Cicak itu mati dan membangkai dalam kopimu. Lantas partikel-partikel cicak bereaksi dengan partikel kopi selama sekian jam saat kau tidur. Apa coba yang terjadi dengan larutan kopi yang kemudian aku minum? Huaaaaaa.. Aku sangat jijik, sangat menyesal, sangat bingung apa yang kemudian kulakukan. Aku ingin muntah tapi tak mungkin, karena teman-teman sekamar pasti segera mengetahui prihal muntahku dan dengan senang hati mengingatkanku atas kebodohan ini dilain hari. Ah, lantas aku harus bagaimana?

Aku pun lantas keluar kamar dengan cangkir masih di tangan. Serta-merta kubuang seluruh isi kopi beserta segala kenangan atas kejadian barusan. 

Maka, ingatlah jika membuat secangkir kopi, tutuplah rapat-rapat dengan segala cara yang kau bisa. Tentu jika kau tidak segera meminumnya atau ada kemungkinan kopi itu akan terlupakan untuk diminum.

Tapi perlu diketahui, meski telah terjadi hal ini padaku, aku tetap menjadi penyuka kopi 3in1. 

HIDUP KOPI 3IN1!




*tulisan ini diikutsertakan dalam GA menulis artikel tentang Kopi di lisagopar.blogspot.com
oleh Istiqomah Primasari

You Might Also Like

11 komentar

  1. Terima Kasih Partisipasinya :)
    GOOD LUCK!

    Salam,
    Lisa Gopar

    BalasHapus
    Balasan
    1. U're welcome mak lisa..
      hik..aamiin..mugi2 dapet prize nya nih aq :) Ngarep betul.hehe

      Hapus
  2. Hehehehhe dapet live topping ya kopinya.... Sukses dengan GA nya

    BalasHapus
  3. eh anak asrama?
    itu ngapain si cicak pengen nyobaik kopi juga? :D

    semoga sukses ikutan GA-nya

    salam manis,
    argalitha.blogspot.com ^^

    BalasHapus
  4. iyah ni cicaknya kebanyakan liat iklan di tipi :D

    aamiin..makasih ya arga litha, sampun berkunjung.

    btw, asli pasuruan kah? *mwtwAja ^^,
    saya asli sana soalnyah

    BalasHapus
  5. aiiiih, bayanginnya saya sampai mual nih. selamat yah minum kopi ditemani cicaak, xixixi

    BalasHapus
  6. Nice post! Can't wait for the next one. Keep stuff like this coming
    Contoh soal psikotes, Cara membuat blog, Tes iq online, and Obat herbal.

    BalasHapus