­

Bagian ini merupakan cerita selama di Mekkah lanjutan proses perjalanan ibadah haji dan umroh kami di postingan sebelumnya.. Disini .. ...

Haji dan Umroh (bagian 2)

By 01.22 , , , , , , , , , , , , ,

Bagian ini merupakan cerita selama di Mekkah lanjutan proses perjalanan ibadah haji dan umroh kami di postingan sebelumnya.. Disini ..

Masjidil harom masih dalam kondisi perbaikan

Di Bandara Jeddah setelah dilakukan pengambilan tas koper maka kami melewati sebuah ruangan/ aula yang sangat besar dan terdiri dari beberapa ruangan lagi dengan sekat-sekat yang besar. Di sepanjang kami berjalan banyak provider seluler yang menawarkan nomor arab. Kami pun mencoba salah satunya yaitu provider Zain selama 30 hari di mekkah karena kami pikir kami akan bisa membeli paketnya lagi saat di madinah nanti.

SIM Card Zain baru dan layanan internet selama 30 hari dari Zain kami dapatkan dengan harga 80 riyal perkartu dengan menunjukkan nomor visa haji kami pada cs Zain (mereka pakai kaos hijau saat itu). Alhamdulillah suami masih mengerti bahasa arab dan inggris campuran mereka. Sedang saya sudah buru-buru ingin ke tempat beristirahat dan bersiap mandi ihrom.

Setelah nomor kami aktif kami bahkan belum mencoba menghubungi orang tua di rumah karena terburu waktu antri mandi ihrom, bersiap solat sunnah ihrom dan solat subuh jamaah bersama Yai Huda dan teman-teman. Saya bahkan gak sempat memotret toiletnya. Well, sebenarnya toilet di bandara cukup baru dan bersih dengan aksen oranye dan krem. Ada dua macam toilet yaitu toilet jongkok dan toilet duduk yang masing-masing dilengkapi shower yang airnya memancar sangat deras. Sehingga penting sekali untuk mencoba membuka kran dengan sangat perlahan agar air tidak muncrat kemana-mana.

Sesaat sebelum menuju toilet saya sarankan membawa satu stel pakaian ihrom lengkap dalam kantong plastik sekaligus handuk dan alat mandi. Dengan kantong plastik maka akan memudahkan membawanya selama di dalam toilet. Dan ketika sudah berada di dalam toilet alangkah baiknya menyiram seluruh bagian toilet agar terhindar dari najis orang sebelum kita. Hal ini baik diterapkan selama berada di tanah suci agar kebersihan dan kesucian terjaga.

Setelah mandi ihrom, niat dan mohonkan Kepada Alloh agar Alloh lah yang menjaga kita dari batal karena buang angin dsb. Jangan lupa untuk niat talfik imam Hanafi agar wudhu kita tidak batal ketika bersentuhan kulit dengan lawan jenis. Talfik ini adalah menggabungkan 2 mahdzab yaitu ketika berwudhu mengikuti mahdzab imam Syafi'i (mahdzab orang Indonesia pada umumnya) dan ketika batal mengikuti mahdzab imam Hanafi yaitu tidak batal saat bersentuhan dengan lawan jenis.

Selama berhaji dan umroh ini talfik imam Hanafi agaknya cukup penting karena hampir tak terhindarkan bersentuhan kulit dengan lawan jenis terutama saat thowaf di sekeliling ka'bah yang harus bersesakan dengan jamaah seluruh dunia pria dan wanita.

Kloter kami 61 SUB termasuk kloter yang berangkat pada Gelombang II yaitu menuju Mekkah terlebih dahulu baru kemudian ke Madinah setelah melaksanakan ibadah haji. Oleh karena itu kebanyakan dari kami melakukan ibadah haji secara Tamatu' karena mendahulukan Umroh Wajib baru kemudian menjalankan manasik Haji di tanggal 9 Dzulhijjah yaitu wukuf di Arofah.


#Berangkat Menuju Hotel Tempat Tinggal Selama di Mekkah 


Nah setelah mandi ihrom, solat sunnah ihrom dan solat subuh, kami dibariskan sesuai rombongan untuk diberangkatkan ke hotel kami di Mekkah yang Alhamdulillah sektor Aziziyah Syimaliyah. Sesaat setelah rombongan masuk dalam bis passpor dikumpulkan ke petugas (agar tidak hilang) dan kami pun mendapat sarapan pagi. Kemudian niat ihrom umroh, wajib bagi yang pertama kali melakukan umroh dan sunnah bagi yang sudah pernah.

Sarapan pertama kami setelah di bandara Jeddah

Bis pun berangkat sambil kami terus bersahutan membaca talbiyah. Sesampainya diperbatasan Mekkah bis kami diperiksa polisi karena menurut keterangan hanya Muslim saja yang boleh memasuki kota Mekkah dan Madinah. Mereka memastikan passpor dan jumlah kami satu bis lengkap. Sepanjang perjalanan yang saya lihat adalah gunung batu, padang pasir, peternakan onta, beberapa gedung, mobil, bus dan truk yang hampir semua penuh debu. Tapi Subhanalloh tidak ada mobil jelek, hampir semua keluaran terbaru di kelasnya.

Tidak lama kami pun sampai di hotel tempat kami menginap selama di Mekkah. Hotel bintang 4 Daar Al-Hady yang merupakan hotel terbaik yang disewa pemerintah Indonesia tahun 2016 ini di Mekkah. Meski letaknya bisa dikatakan cukup jauh dari Masjidil Harom namun hotel kami sangat nyaman. Di dalamnya cukup lapang, disediakan heater dan air minum untuk sehari-hari. Hotel kami ini menjadi pusat berkumpulnya petugas haji seluruh Indonesia bahkan bapak mentri agama tercinta Pak Lukman Hakim juga menginap di sini.

Masjid hotel daar hady

Sesampainya di hotel ketua rombongan membagi kamar untuk anggota yaitu satu kamar berisi 3 orang. Masing-masing mendapat kartu kunci kamar untuk memudahkan saat bepergian. Saya sangat beruntung satu kamar bersama teman satu rombongan yaitu mbak Nurani dan bu Era. Mereka berdua sangat luar biasa bagi saya.

Karena sampai di hotel sudah cukup siang, kami pun urung berangkat melaksanakan umroh saat itu juga karena pertimbangan di masjidil harom sudah sangat penuh sesak di jam menjelang duhur. Ketua rombongan yaitu Yai Huda memutuskan untuk berangkat umroh setelah isya' ketika cuaca tidak panas dan masjidil harom lebih lengang. Akhirnya kami pun harus berhati-hati menjaga niat ihrom kami selama 12 jam lebih, diantaranya menjauhi hal-hal yang membatalkan ihrom seperti menggunakan sabun wangi, membayar dam saat merontokkan rambut dst. Yah, saya pun terkena dam karena merontokkan satu helai rambut dan membayar dam sebesar 10 riyal.


#Umroh Wajib


Setelah solat isya' berjamaah di masjid hotel, kami satu rombongan berangkat ke masjidil harom bersama dengan menaiki bis nomor 2. Kami oper 2x yang pertama bis khusus jamaah Indonesia sampai terminal Jamarat dan yang kedua bis umum menuju masjidil harom yang berhenti di terminal mahbas jin dan dinaiki oleh jamaah afghanistan dsb.

Salah satu toilet perempuan yang ada di luar masjidil harom
Tempat wudhu perempuan dalam masjidil harom

Sesampainya di terminal maulid nabi, kami semua turun dan masuk lewat babus salam yaitu pintu tempat orang sa'i untuk kemudian menuju hajar aswad dan memulai manasik umroh wajib kami. Dimulai dari thowaf, solat sunnah thowaf di belakang makom ibrahim, minum air zam-zam, sa'i dan tahalul. Seluruh rangkaian manasik umroh ini kami selesaikan hingga pukul 01.00 dini hari. Kami pun beristirahat sejenak di pelataran masjidil harom, mengambil air zam-zam di kran-kran luar masjid, berfoto, ke kamar kecil dan kemudian pulang dengan bis sholawat gratis yang bernomor sama.
Air zam-zam di kran luar masjid dan tong-tong dalam masjid (pilih yang not cold/tidak dingin)

Sesampainya di hotel rasanya kaki njarem dan saya oles dengan krim yang diberi kemenkes saat di sukolilo sambil saya tiduran dan mengangkat kaki ke atas. Alhamdulillah saat bangun kaki terasa lebih nyaman. Pagi harinya ketua rombongan kami mengumpulkan biaya dam haji tamatu' berupa satu ekor kambing dan uang untuk ziarah ke jeddah dan umroh 2x masing-masing 500 riyal.

Saat manasik haji yaitu wukuf di Arofah masih 6 hari kedepan, sehingga waktu yang ada kami manfaatkan untuk mengetahui tempat cuci pakaian di hotel, tempat makan, tempat belanja kebutuhan sehari-hari, dan mengulang perjalanan dengan bis menuju masjidil harom. Namun sekitar 2 hari sebelum waktu wukuf sudah tidak ada bis sholawat yang mengantar jemput ke harom. Kami memilih solat di masjid hotel sambil menghemat tenaga. Lagi pula jika harus menyewa taksi di saat jelang waktu wukuf dan jamarat harganya bisa berlipat-lipat. Yang biasanya hanya 10 riyal bisa menjadi 100 riyal karena saat ibadah haji dan jamarat banyak pegawai yang libur.

Tempat cuci baju pria dan perempuan dipisah *tapi kondisional juga

Untuk makanan sehari-hari kami mendapatkan pinjaman rice-cooker dari KBIH atau jika beli pun harganya cukup terjangkau 150 riyal. Kemudian untuk lauk pauk biasanya ada penjual bungkusan sayur, gorengan, mie, telur, bakpao dsb di depan hotel selepas subuh. Wah laris manis berjualan di depan hotel ini. Harganya beragam misalnya satu wadah mika berisi nasi goreng/ kuning/ putih dengan lauk ayam dan mie seharga 5 riyal. Kemudian bakpao 5 riyal dapat 2, telur bulat matang 1 riyal dst. Kami juga biasa membeli buah-buahan dan mie indomie di toko sekitar hotel seperti Noori. Dan di supermarket seperti Noori harganya lebih bersaing dari pada harus membeli di toko kecil pinggir jalan. Pakai nawar dan biasanya malah dapat harga yang lebih mahal.


#Persiapan Wukuf di Arofah


Pada tanggal 7 dzulhijjah malam sebelum diberangkatkan ke Arofah untuk persiapan wukuf, kami melakukan istighosah dan doa bersama di depan kamar hotel sambil duduk lesehan. Sebelum berangkat keesokan hari kami menyiapakan barang bawaan, diantaranya :
1. Tikar untuk alas masing-masing selama wukuf, karena di arofah hanya berlapis karpet tebal yang cukup berdebu. Tikar ini digunakan untuk alas solat dan tidur. Kami membelinya di toko Noori dekat hotel sekitar 9 riyal
2. Celana dalam ganti atau yang sekali pakai, pembalut, sarung tangan ganti, kaos kaki ganti, baju ganti (untuk persiapan setelah tahalul awal)
3. Sajadah (bisa sebagai selimut saat dingin, karena kami bermalam di tenda)
4. Buku doa, Alquran dan tasbih untuk mengisi waktu wukuf agar tidak terjebak mengobrol dengan teman (karena ini waktu mustajabah)
5. Uang saku yang dibungkus plastik dan dimasukkan dalam kantong kaos dalam (atau dimasukkan dalam brankas di kamar hotel jika ada)
6. Kantong krikil untuk tempat kerikil selama jamarat
7. Makanan ringan semi berat karena biasanya saat sampai di Arofah petugas catering baru memberi jatah makan di malam hari padahal kita sampai waktu duhur
8. Alat mandi digunakan hanya ketika  sudah lepas ihrom (setelah jumroh aqobah tanggal 10 dzulhijjah dan tahalul awal). Sabun dan pasta gigi mengandung pewangi yang membatalkan ihrom kita meski dengan niat mengambil manfaat untuk kesehatan. Namun sesungguhnya kita masih bisa 'sehat' tanpa keduanya (wukuf bisa dikatakan tidak sampai 2 hari)

Seluruh bawaan untuk wukuf tersebut dimasukkan dalam satu tas serut (hadiah dari bank tempat kami menabung haji) dan sisanya berupa makanan di kantong plastik. Dan tentu tas passpor yang selalu dibawa kemanapun kita pergi.


#Arofah


Kami berangkat menuju Arofah sekitar pukul 11.00 siang hari tanggal 8 dzulhijjah. Sholat duhur dan ashar jamak taqdim. Sesampainya di Arofah memang subhanalloh panas terik sinar matahari, berdebu dan berkeringat. Namun ada satu tips yaitu kita bisa mengalihkan fokus kita dengan terus mengaji atau berdzikir, Insyaalloh panasnya berkurang. Lagi pula disela panas siang hari juga ada semilir angin sesekali yang cukup menyejukkan.

Suasana saat di Arofah siang dan malam hari

Di Arofah ini kita mendapatkan jatah makan 3x sehari, buah, air putih botol, juga paket makanan dan minuman (seperti teh kopi gula saos kecap popmie kurma croisant dsb) yang diberikan malam hari sebelum wukuf. Air panas disediakan di dispenser logam di setiap sudut jalan yang cepat sekali kosong. Maka air panas bisa di ambil di dapur dalam kran-kran berisi air panas. Kamar mandi yang ada adalah portable jadi sering jika ada misalnya 8 kamar mandi maka yang 3 krannya lepas dsb sehingga antrian mengular pada 5 kamar mandi yang masih normal.

Jangan dibayangkan ibadah haji hanya enak-enaknya saja yah. Kata Yai Huda kita harus sadar akan menemui banyak hal yang mungkin kurang menyenangkan seperti antri, kamar mandi kotor dsb. Diterima saja, niatkan ibadah karena Alloh agar segala kesulitan dan rintangan diberikan kemudahan oleh Alloh. Lagi pula saat datang ke Mekkah kita adalah undangan khusus dari Alloh. Jadi tetap semangat! Justru disinilah tantangannya. Namun dibandingkan susahnya nih, ibadah haji banyakan senengnya kok.

Keesokan harinya tanggal 9 dzulhijjah saat tiba waktu wukuf yaitu mulai duhur sampai jelang maghrib kami manfaatkan dengan beristighosah, berdoa, mengaji, berdzikir dsb. Ketua kloter yang di wakili oleh Yai Huda meberikan khutbah wukuf sebelum solat dhuhur. Setelah solat duhur dan ashar jamak taqdim maka kami bebas mau berdoa di dalam maupun di luar tenda. Waktu ini juga dimanfaatkan untuk menyampaikan doa titipan, baik surat maupun foto dsb.


#Muzdalifah


Ketika menjelang maghrib kami semua berkemas untuk antri naik bis menuju muzdalifah. Sesampainya di muzdalifah alhamdulillah tahun 2016 ini sudah mulai disediakan karpet untuk beristirahat. Memang tanpa tenda, namun Alhamdulillah karpet ini sangat membantu untuk merebahkan badan yang lelah selama perjalanan. Di muzdalifah ini kami solat magrib dan isya jamak takhir. Setelah itu kami memunguti batu kerikil sebanyak 49 butir dan dilebihi hingga 72 jaga-jaga batu kita jatoh dsb.

Di Muzdalifah bermalam sejenak dan mengumpulkan kerikil untuk lempar jumroh

Di muzdalifah ada orang berjualan teh, kopi dan popmie. Tapi tidak mendapatkan konsumsi apapun dari petugas karena hanya sampai tengah malam kemudian langsung berangkat ke mina. Setelah jelang tengah malam sudah banyak bis yang mulai mengangkut jamaah menuju mina. Kami pun antri masuk ke dalam bis (bisa dibayangkan antri ala Indonesia).


#Mina dan Jamarat


Selama di perjalanan menuju mina ini di dalam bis berdesakan dan bis pun macet karena disepanjang jalan seluruh jamaah seluruh dunia tumplek blek bebarengan menuju mina di jam yang sama. Ada yang naik bis dan ada yang berjalan kaki. Mereka yang berjalan kaki kebanyakan jamaah luar dengan postur tubuh tinggi besar dan kuat.

Sesampainya di mina, kami hanya sejenak saja kecuali kemudian langsung bertolak ke jamarat untuk jalan kaki dan melempar jumrah aqobah di tanggal 10 dzulhijjah dan melakukan tahalul awal agar bisa melepas ihrom (lepas dari semua larangan ihrom kecuali bercampur suami-istri). Selama di perjalanan mina-jamarat kami melewati terowongan satu arah yang cukup besar dengan blower yang berdengung. Semua masih berpakaian ihrom dan terlihat letih.

Suasana di kemah Mina

Jamaah Indonesia berjalan masuk dalam terowongan yang mengarah pada lantai 3 tidak bercampur dengan jamaah luar yang tinggi besar demi keamanan bersama. Kami memilih tempat melempar jumroh aqobah yang di bagian tengah dan mendekat ke sumur agar lemparan tepat mengenai lengkungan/ jedingan dan jatuh ke sumur. Seusai lempar karena jarak hotel lebih dekat ketimbang kembali ke kemah mina, maka kami lebih memilih pulang ke hotel. Akan tetapi Yai Huda sudah mewanti-wanti untuk menyediakan makanan sendiri karena selama hari tasyrik banyak toko yang tutup.

Saat di Jamarat jelang lempar sesaat sebelum subuh

Alhamdulillah kami bersyukur bisa kembali ke hotel karena kondisi di hotel tentu lebih baik ketimbang di kemah mina. Kami melakukan masing-masing 3 lemparan jumrah ula wustho aqobah di tanggal 11 dan 12 dzulhijjah dengan berangkat sebelum subuh jalan kaki menuju jamarat agar terhitung bermalam di mina. Dan mengambil nafar awal menyelesaikan lempar kami di tanggal 12 dzulhijjah untuk kemudian menyelesaikan thowaf sai dan tahalul tsani hingga rangkaian ibadah haji kami selesai. Yai Huda mengajak kami thowaf dan sa'i pada tanggal 14 dzulhijjah ketika kondisi di masjidil harom sudah tidak penuh sesak.


#Kegiatan Pasca Armina

Miqat di Ji'ronah *sambil ambil air Ji'ronah

Seusai melaksanakan rangkaian ibadah haji ini kami kemudian bebas pergi ke masjidil harom dan melakukan umroh sekuat tenaga. Saya dan suami alhamdulillah dapat 7x umroh dan semuanya dengan naik bis. 1 umroh wajib, 2 umroh bersama Yai dengan miqot di Ji'ronah dan Tan'im. Kemudian sisanya kami lebih memilih menggunakan angkutan umum bis saptco 2 riyal per orang sekali pergi miqot di tan'im jadi pulang pergi 4 riyal dan bebarengan dengan jamaah seluruh dunia yang sedang akan umroh.

Sarapan sebelum berangkat ke tan'im

Namun kami harus menunggu bis ke tan'im alias masjid aisyah ini di utara masjid/ pintu depan masjidil harom di belakang daar at-tauhid intercontinental yaitu jalan umul quro'. Sesampainya di tan'im (tempat miqot) maka kami solat sunnah ihrom dan niat untuk kemudian bertolak kembali ke masjidil harom untuk melakukan thowaf dan sa'i.

Bis menuju tan'im di belakang darr at-tauhid *2riyal
Miqot di masjid Aisyah di Tan'im

Selain melakukan umroh sunnah untuk diri kami sendiri, kami juga mengumrohkan saudara kami yang telah meninggal dunia. Dan masa tunggu sebelum berangkat ke Madinah ini kami manfaatkan dengan pergi ke masjidil harom setiap hari, makan siang di Al-Baik dan mengumpulkan oleh-oleh. Kami membeli beberapa oleh-oleh di toko sekitar hotel dan di mall sekitar masjidil harom. Enaknya belanja di mall adalah harganya sudah pasti dan tanpa tawar menawar. Kalau saya sih tidak begitu suka tawar menawar apalagi yang jual cowok semua (wah, langsung pasang badan suami di depan hidung deh!).

Banyak orang berjualan makanan dsb di sepanjang jalan depan pintu utama masjidil harom
The best meal " Al-Baik" *murah enak ngangenin

Dari KBIH juga ada ziarah ke Jeddah, ke masjid-masjid peninggalan zaman Nabi Muhammad SAW sambil kemudian makan menu Indonesia dan belanja di toko Ali Murah. Yai Huda juga memfasilitasi teman- teman yang belanja perhiasan emas di hotel Hilton.

Saat berziarah ke Jeddah dan belanja di Ali Murah

Saat ke masjidil harom seperti biasa kami naik bis 2x dan saat selesai solat fardu sudah bisa dipastikan kami akan sangat berebut tempat dengan jamaah afghanistan yang berpostur tubuh tinggi besar dan gesit untuk masuk ke dalam bis. Subhanalloh mereka sampai loncat kursi lho kalau berebut. Dan mereka terlihat menikmati rebutan dengan kami jamaah Indonesia yang berpostur tubuh kecil dan imut ini.💃

Suasana terminal maulid nabi sebelum 1 oktober 2016

Alhamdulillah sejak tanggal 1 Oktober kami sudah mendapatkan bis untuk kami sendiri alias gak pakai oper dan gak pakai campur orang luar. Nyaman dan cepat sekali rasanya perjalanan.
Sekedar info jangan habiskan uang kita semuanya untuk belanja di Mekkah, sisakan untuk belanja dan makan sarapan di Madinah. Oya sebaiknya juga saat di Indonesia uang rupiahnya jangan ditukarkan semua saat akan berangkat karena itu pas nilai tukar rupiah turun banget. Mendingan bawa rupiahnya dan ditukarkan saat akhir musim haji. Toh belanja di akhir musim bagi jamaah Gelombang kedua sangat menguntungkan karen harga bisa berkurang jauh dari harga awal musim.

Suasana terminal maulid nabi setelah 1 oktober 2016

Tips lain adalah buat ibu-ibu jangan genit-genit saat menawar barang atau mata penjual akan jelalatan memandangi anda. Paling aman kemana-mana pakai masker. Dan yang bersama suami sebaiknya kemana-mana wajib bareng suami karena resiko sangat tinggi. Di hotel kami kemarin saja ada satu jamaah dari bandung yang dibawa lari taksi dan di hotel lain pun juga kejadian jamaah perempuan dibawa lari taksi.

Wallohua'lam motifnya apa. Tapi harus extra hati-hati tatkala di negeri orang. Jangan sok-sok an, jangan dandan menor dan berpakaian ketat. Beneran deh! Karena hampir semua pekerja disini laki-laki dan dari beragam suku bangsa. Saya nemuin kasir perempuan cuma satu di toko noori dekat hotel itupun gak setiap hari. Waspada yah sobat yang mau haji dan umroh. Bukan nakutin tapi jaga-jaga ya khan?😎

Dan setelah sekitar awal bulan Oktober kami diberangkatkan ke Madinah dengan menggunakan bis saptco antar kota. Tas koper saya dan teman-teman jamaah sudah cukup gemuk dengan bawaan oleh-oleh di dalamnya. Kami berangkat ke Madinah sore hari lepas ashar tanggal 4 Oktober 2016. Selama perjalanan kami mendapat konsumsi dari KBIH dan snack dari pemerintah Saudi. Perjalanan ke Madinah bisa dikatakan cukup singkat karena tengah malam kami sudah sampai di hotel Madinah.

Dilanjut di postingan berikutnya lagi sobat..😄

You Might Also Like

0 komentar