­

Tulisan ini merupakan lanjutan posting tentang Haji dan Umroh Kami disini (bagian2) dan disini (bagian1)... Suami dan Yai Huda dengan...

Haji dan Umroh (bagian3-habis)

By 03.57 , , , , , , , , , , ,

Tulisan ini merupakan lanjutan posting tentang Haji dan Umroh Kami disini (bagian2) dan disini (bagian1)...

Suami dan Yai Huda dengan latar belakang masjid Nabawi bagian utara

Perjalanan dari Mekkah ke Madinah sekitar 9 jam akhirnya sampai di hotel Jauhar Al-asima, tempat kami tinggal selama di Madinah. Hotel kami berada sekitar 100 meter dari Masjid Nabawi. Dan di Madinah ini kami menjalankan Arbain yaitu solat 40 waktu berjamaah di Masjid Nabi secara terus-menerus tidak terputus.

Subhanalloh, hotel tempat kami tinggal ini adalah salah satu hotel bintang 3 tempat jamaah dari afghanistan juga tinggal.hehe.. Padahal kami sudah merasa nyaman tidak bertemu sejenak dengan mereka (karena teringat berebut bis di terminal maulid nabi), namun Gusti Alloh mempertemukan kembali malah dalam satu hotel.
 
Kartu tinggal di hotel Al-asima Madinah

Di Madinah ini tidak ada bis sholawat seperti di Mekkah, karena rata-rata jarak hotel ke masjid masih dekat dan dapat ditempuh dengan berjalan kaki. Setiap sebelum datang waktu subuh, duhur, dan ashar kami berusaha sudah berangkat ke masjid agar mendapat tempat di dalam masjid Nabi ini. Jika datang bersamaan dengan waktu adzan biasanya (terutama untuk perempuan) agak sulit mendapatkan tempat yang nyaman di dalam masjid.

Setelah waktu ashar biasanya kami nerus hingga maghrib dan isya, kecuali ada keperluan. Kebanyakan jamaah juga demikian karena biasanya selepas ashar ada kajian tentang sejarah dsb di masjid dengan bahasa Indonesia maupun dengan bahasa Arab.

Sebelum masuk masjid, sandal biasanya dimasukkan dalam kantong plastik dan dibawa masuk diletakkan di rak sandal terdekat dengan tempat kita solat. Saat di pintu masjid akan ada pemeriksaan bagi yang membawa tas. Sebaiknya tas sudah dibuka sebelum diperiksa agar tidak mengantri lama. Jika tidak membawa tas tentu bisa langsung masuk masjid. Dan saya termasuk yang selalu membawa tas selempang berisi sajadah, botol minum kosong dan camilan (untuk dimakan saat menunggu jeda waktu antara dua solat). Jangan membawa kantong plastik berisi belanjaan ya, karena pasti tidak diperkenankan masuk.

Tempat solat pria dan perempuan dipisah. Jika di masjidil harom biasanya suami akan 'menaruh' saya di gerombolan perempuan lantas pergi ke shaf pria dan setelah selesai akan dengan mudah menjemput saya ditempat sebelumnya. Maka jika di Madinah tempat pria dan perempuan benar-benar dipisah. Kami biasanya akan janjian bertemu di bawah payung raksasa di depan pintu nomor 15. Dalam pagar masjid Nabi ini pintu-pintunya diberi nomor sebagai pengingat tempat masuk dan keluar jamaah. Setiap selesai jamaah solat fardhu biasanya akan ada solat jenazah sebagaimana di masjidil harom.

Saya teringat suatu waktu antara waktu ashar dan maghrib, ada orang di depan saya menunjuk-nunjuk ke belakang. Saya pun bertanya ada apa bu? Dibelakang ada orang jakarta yang pingsan. Saya pun turut menoleh namun tidak mendekat karena saya pikir sudah diolesi minyak kayu putih oleh putri ibu-ibu yang pingsan tersebut. Tidak lama ternyata beliau sadar namun sebagian badannya sudah tidak dapat digerakkan lagi (serangan stroke) sambil mulut penuh busa. Putrinya pun menjerit, "ibu..ibu.. bangun bu.." dan tidak berapa lama kemudian beliau sudah tiada.
Masyaalloh, kita bahkan tidak tahu kapan Alloh akan menjeput ajal kita dimana dan kapan. Ibu ini mungkin beruntung karena meninggal saat usai ibadah haji dan masih dalam kondisi suci jelang solat maghrib.

Orang-orang kemudian berdatangan berebut melihat dan mengerumuni ibu dan anak tadi. Ibu tadi sudah sepuh seusia nenek saya dan putrinya seusia ibu saya. Saya langsung teringat nenek di rumah yang juga sedang berjuang melawan stroke. Tiba-tiba air mata sudah tidak dapat dibendung lagi sambil berdoa semoga yang terbaik buat nenek saya di rumah. Sekarang nenek saya sudah tiada dan hari ini dimana tulisan ini dibuat adalah belum 40 hari nenek saya pergi. Semoga Alloh memberikan tempat terbaik buat nenek saya disisinya, putra putrinya yang masih hidup ini selalu rukun dan menjaga ibadah kami.
Wallohua'lam..

Kita lanjut ya.

Jika di Makkah kami mendapat jatah makan 12 hari siang dan malam plus full 3x saat armina. Maka di Madinah ini kami mendapatkan makanan setiap hari, siang dan malam. Pagi biasanya kami sarapan di rumah makan Indonesia yang letaknya di sekitar jalan pulang-pergi ke masjid.

Rumah makan khas Indonesia di Madinah

Bagi saya cuaca di Madinah ini terasa lebih extrem daripada di Mekkah karena kulit terasa pedih jika lupa menggunakan pelembab. Bibir juga lebih mudah pecah-pecah. Kami pun lebih memilih mengumpulkan sisa oleh-oleh pada malam hari setelah waktu isya ketimbang siang hari.

Selain melaksanakan arbain di Madinah ini kami juga berziarah salah satunya ke masjid Kuba dimana barangsiapa yang pergi ke masjid Kuba dengan sebelumnya telah berwudhu dari rumah kemudian sesampainya disana melaksanakan sholat sunnah dua rokaat, maka pahalanya sama dengan 1x umroh. Kebetulan kami kesana di hari Sabtu, hari yang sama dimana Rasululloh biasa melaksanakan sholat dua rakaat ini.

Masjid Kuba

Dan 40 waktu solat berjamaah di masjid Nabawi tiba-tiba saja sudah selesai kami laksanakan. Saatnya mengemas koper persiapan pulang ke tanah air. Yang terlihat di lobi adalah koper-koper gendut milik jamaah kloter kami. Ada kabar bahwa jamaah sebelum kami ada yang membawa zam-zam dan tasnya di tusuk-tusuk sampai bungkusan zam-zamnya pecah membasahi seluruh isi tas. Akhirnya banyak jamaah rombongan kami yang urung membawa zam-zam.

Saat itu karena mendapat titipan dari saudara di rumah, maka kami tetap membawa zam-zam dalam tas koper yang kami kemas dalam botol ditutup dengan benar dan rapat kami isolasi/ tape tutup botolnya dan seluruh bagian botol kemudian dibungkus kantong plastik dan kami isolasi rapat sekali lagi.

Kemudian saat sudah bersiap pulang kami juga membawa beberapa botol minuman kami bersama bungkusan makanan persiapan masa tunggu di bandara. Alhamdulillah ternyata bawaan zam-zam kami tidak bermasalah karena kami letakkan bersama bungkusan makanan. Saat di bandara semua barang yang kita bawa di scan. Dan bagi wanita khususnya akan diperiksa lebih detail diseluruh bagian lekukan tubuh oleh polisi wanita. Tips dari saya santai saja jangan ketakutan. Selain itu letakkan uang dan benda penting kita dalam tas paspor yang akan di scan bersama tas kantong makanan dan yang lain. Tidak perlu dimasukkan dalam pakaian dalam karena akan menyulitkan pemeriksaan.

Selama menunggu dibandara bisa dimanfaatkan dengan menelfon orang tua dan saudara di rumah. Dan saat tiba waktu masuk pesawat seperti biasa kita membawa tas tenteng masing-masing dan meletakkannya di atas kursi tempat duduk kita. Pesawat pun take off dan seperti saat berangkat ke Mekkah sebelumnya kita akan mendapat 2x snack dan makan besar.

Setelah pesawat landing di bandara Juanda kami semua satu kloter turun dan langsung masuk bis damri menuju sukolilo. Sepanjang perjalanan saya melihat ada orang yang melambaikan tangan dan menangis, sepertinya sambil berdoa. Saya pun teringat diri saya sendiri. Dulu setiap kali ada rombongan haji berangkat di masjid kecamatan selalu saya lambaikan tangan sambil nangis sambil berdoa, Ya Alloh semoga saya segera menyusul mereka berangkat haji dan menjadi tamunipun Panjenengan Ya Alloh".

Ketika kemudian saya melihat diri sendiri dalam wujud orang-orang yang melambaikan tangan pada bis kami ini. Reflek rasanya langsung mendoakan, "Ya Alloh semoga orang-orang yang melambaikan tangan dan benar-benar kepingin ini segera Kau panggil untuk berhaji ke Rumah-Mu dan merasakan betapa nikmatnya ibadah haji ini". Ya Alloh .. Maturnuwun sanget telah memberangkatkan kami sekalian. Dan mungkin saya termasuk orang-orang yang berangkat haji karena do'a dari jamaah haji yang dulu saya melambaikan tangan pada mereka. Subhanalloh..

Sesampainya di sukolilo kami mendapat pengarahan ketika petugas disana melakukan cek pada paspor dan memastikan tas koper kami. Selepas itu kami mencari tas kopor masing-masing dan mengambil jatah zam-zam 5 liter dalam galon. Bis penjemput kami pun berangkat menuju KBIH yang disana sudah banyak sekali penjemput jamaah haji.

Setidaknya 3 hari sepulang haji adalah hari tersibuk untuk menemui tamu dan mendoakan mereka yang datang. Namun meski sibuk bercampur lelah rasa senangnya tidak tergantikan karena kembali bertemu anak, orang tua dan saudara. Kami pun masih ingin kembali lagi ke Baitulloh, ingin kembali dengan mengajak serta sanak saudara kesana juga teman-teman semua. Biridholloh ala hadihinniyah assholihah bibarokatil faatihah...

Semoga bermanfaat yah sobat blogger. Saya menulis cerita selama berhaji karena sebelum berangkat dulu saya sangat terbantu dengan postingan blogger yang sudah pernah berhaji. Dan postingan tentang haji ini terbatas, kecuali umroh yang memang cukup banyak. 😉

Terimakasih sudah membaca 😘

You Might Also Like

2 komentar

  1. Siiip betul postingannya...aku baca sambil ingat 2...soalnya aku dan istri juga berangkat di th 2016..kloter 55...bagus dan mudah 2an membawa manfaat bagi semua...amien

    BalasHapus
    Balasan
    1. Alhamdulillah .kloter 55 SUB pak arief?, semoga bermanfaat bagi calon2 jamaah haji ditahun 2017..
      Karena sebenarnya tiap tahun insyaalloh pemerintah kita melakukan banyak perbaikan untuk kualitas pelayanan haji.

      Hapus