Persamaan Untung Suropati, Ibu Khalifah dan Garuda Indonesia
Mengingat para pahlawan yang pernah ada, sungguh membuat saya terhenyak. Batin saya memburu. Saya melihat pada diri sendiri dan sejenak berfikir, lantas apa yang bisa saya lakukan untuk negeri ini? Karena saya berasal dari Pasuruan maka Pahlawan Nasional yang saya banggakan adalah Untung Suropati, tanpa mengabaikan pahlawan yang lain tentunya.
Untung Suropati
Untung Suropati
![]() |
Untung Suropati (sumber) |
Untung Suropati hidup antara tahun 1660 sampai 1706. Beliau mulanya hanya seorang budak yang dipelihara Belanda. Seiring berjalannya waktu Untung Suropati sering merasakan ketidakadilan dan kesewenangan Belanda, hingga beliau menempa diri untuk selalu melawan segala bentuk penindasan tersebut. Dengan ketrampilan dan kecerdasan, beliau mampu memimpin kawan-kawannya untuk menentang dan menghancurkan pasukan Belanda di manapun mereka bertemu. Beliau adalah seorang pemimpin yang berwibawa, selalu bersikap arif dan bijaksana, selalu menolong dan melindungi rakyat kecil sehingga rakyat merasa aman dan tentram. Untung suropati telah berhasil membangun dan berkuasa di Pasuruan selama 20 tahun dengan gelar Adipati Aria Wiranegara dan tetap teguh untuk tidak bekerja sama dengan Belanda. Menurut babad tanah jawa, pertama-tama beliau diperbudak oleh Van Beber yang kemudian melegonya pada Moor. Sebagai majikan kedua, Moor merasa kehidupan dan karirnya membaik sejak memiliki si budak dan sejak itu beliau diberi nama Untung. Tetapi Untung kemudian menjalin cinta dengan Suzane, anak majikan dan ketahuan hingga dipenjara namun berhasil meloloskan diri bersama kawan-kawannya. Untung pun mengumpulkan para budak dan gelandangan Bali untuk menyerang patroli Belanda. Akhirnya beliau diburu oleh Kapten Ruys yang justru menawarinya untuk menjadi serdadu Belanda. Untung dan kawan-kawan pun menyetujui. Hingga setelah dilatih kemiliteran, karir untung menanjak hingga mencapai pangkat Letnan dan kemudian ditugaskan untuk melucuti senjata Pangeran Purbaya. Pangeran Purbaya adalah pangeran Banten yang berniat menyerahkan diri ke Tanjungpura, namun hanya bersedia menyerah pada kolonial pribumi.
Dalam upacara penyerahan diri, pasukan Belanda pimpinan Vaandrig Kuffeler bertingkah arogan dan memperlakukan pangeran Purbaya dengan kasar. Hal ini tidak dapat diterima oleh Untung hingga terjadi pertengkaran berujung pertempuran dimana pasukan Untung menghancurkan pasukan Kuffeler di sungai Cikalong pada 28 Januari 1684. Saat pangeran Purbaya tetap berniat menyerahkan diri pada Belanda, istri pangeran, Gesik Kusuma lebih memilih kembali ke orang tuanya di Kartasura dimana dalam pelarian tersebut Untung berhadapan dengan tentara Belanda. Setibanya di Kartasura, ayah Gusik Kusuma, pangeran Nerangjaya yang sangat anti VOC menikahkan putrinya dengan Untung. Bahkan atas lobi beliau Sultan Amangkurat I Mataram mengangkat Untung sebagai Bupati Pasuruan. Untung pun tetap berperang melawan Belanda hingga pada tahun 1699 dan kekuasaannya telah mencapai Madiun.
Saat itu Blambangan dibawah pengaruh Mengwi (Bali) yang wilayahnya bahkan sudah mencapai Probolinggo dan terbentuklah aliansi antara Untung Suropati, Blambangan, dan Mengwi. Ketika Mataram bergejolak, pangeran Puger merebut tahta Kertasura dengan bantuan Belanda dan memakai gelar Pakubuwono I. Amangkurat III pun tidak terima dan memutuskan untuk bergabung dengan Untung Suropati di Pasuruan. Belanda kemudian bersekutu dengan Cakraningat II yang merasa kekuasaannya di Surabaya dan Madura terancam oleh aliansi Untung Suropati. Gabungan tentara VOC, Pakubuwono I dan Cakraningrat ini lambat laun mendesak Untung Suropati hingga Amangkurat III memutuskan untuk menyerah pada Belanda. Belanda lantas meneruskan serangan ke jantung pertahanan Untung Suropati di Pasuruan setelah merebut benteng satu-persatu. Akhirnya dalam pertempuran Bangil di tahun 1706, Untung Suropati gugur. Beliau gugur sebagai seorang raja, bukan sebagai budak. Perjuangan Untung Suropati dilanjutkan oleh istri dan anak-anaknya, meski perlawanan mereka tidak segemilang perlawanan beliau.
Dalam upacara penyerahan diri, pasukan Belanda pimpinan Vaandrig Kuffeler bertingkah arogan dan memperlakukan pangeran Purbaya dengan kasar. Hal ini tidak dapat diterima oleh Untung hingga terjadi pertengkaran berujung pertempuran dimana pasukan Untung menghancurkan pasukan Kuffeler di sungai Cikalong pada 28 Januari 1684. Saat pangeran Purbaya tetap berniat menyerahkan diri pada Belanda, istri pangeran, Gesik Kusuma lebih memilih kembali ke orang tuanya di Kartasura dimana dalam pelarian tersebut Untung berhadapan dengan tentara Belanda. Setibanya di Kartasura, ayah Gusik Kusuma, pangeran Nerangjaya yang sangat anti VOC menikahkan putrinya dengan Untung. Bahkan atas lobi beliau Sultan Amangkurat I Mataram mengangkat Untung sebagai Bupati Pasuruan. Untung pun tetap berperang melawan Belanda hingga pada tahun 1699 dan kekuasaannya telah mencapai Madiun.
Saat itu Blambangan dibawah pengaruh Mengwi (Bali) yang wilayahnya bahkan sudah mencapai Probolinggo dan terbentuklah aliansi antara Untung Suropati, Blambangan, dan Mengwi. Ketika Mataram bergejolak, pangeran Puger merebut tahta Kertasura dengan bantuan Belanda dan memakai gelar Pakubuwono I. Amangkurat III pun tidak terima dan memutuskan untuk bergabung dengan Untung Suropati di Pasuruan. Belanda kemudian bersekutu dengan Cakraningat II yang merasa kekuasaannya di Surabaya dan Madura terancam oleh aliansi Untung Suropati. Gabungan tentara VOC, Pakubuwono I dan Cakraningrat ini lambat laun mendesak Untung Suropati hingga Amangkurat III memutuskan untuk menyerah pada Belanda. Belanda lantas meneruskan serangan ke jantung pertahanan Untung Suropati di Pasuruan setelah merebut benteng satu-persatu. Akhirnya dalam pertempuran Bangil di tahun 1706, Untung Suropati gugur. Beliau gugur sebagai seorang raja, bukan sebagai budak. Perjuangan Untung Suropati dilanjutkan oleh istri dan anak-anaknya, meski perlawanan mereka tidak segemilang perlawanan beliau.
Ibu Kholifah, penerima Kalpataru kategori Perintis Lingkungan
Ibu Kholifah berasal dari Desa Kedungringin, Kecamatan Beji, Kabupaten Pasuruan. Meski hanya lulusan kejar paket B beliau tidak pantang menyerah dimana sejak tahun 1997 beliau bergabung dengan kelompok tani "Petani Maju" dan mengikuti kursus Sekolah Lapangan Pengandalian Hama Terpadu (SLPHT) di tahun 1998. Di sekolah inilah Ibu Kholifah mendapatkan banyak pengetahuan mengenai pertanian dan mulai tertarik untuk mengikuti berbagai kursus lainnya. Penelitian
Ibu Kholifah bermula dari pengalamannya menanam padi yang seringkali
rusak diserang hama sundep dimana kemudian diketahui bahwa sundep yang
merusak batang padi disebabkan adanya kerusakan lingkungan akibat
penggunaan pestisida. Hama sundep berasal dari serangga kecil yang
bertelur dan menjadi parasit batang padi dengan menetas menjadi ulat,
sehingga untuk mengatasinya dibutuhkan musuh yang dapat melawan hama
tersebut berupa jamur pathogen yaitu trichogramma. Jamur pathogen ini berfungsi sebagai musuh alami hama.
![]() |
Ibu Kholifah (sumber) |
Ibu Kholifah prihatin akan rusaknya struktur tanah akibat penggunaan bahan kimia penyubur tanaman dan pembasmi hama yang berlebihan. Sehingga sejak tahun 1999 beliau merintis pembuatan trichogramma yang sangat menguntungkan karena mampu menekan biaya produksi padi dan mulai menularkan pengetahuannya pada anggota kelompok tani lain. Tahun 2000 Ibu Kholifah membangun Pusat Pelayann Agens Hayati (PPAH) "Tani Makmur" dan telah membuat trichogramma sebanyak 20.000 pias/tahun, pupuk organik cair 5.000 Liter/tahun,
pupuk organik padat 6 ton/tahun, pengembangan tanaman hias, dan pengembangan jamur
antagonis dengan peralatan sederhana. Program ini kemudian banyak membantu meningkatkan produksi petani dan berhasil menurunkan
penggunaan pupuk buatan dan pestisida kimia. Luar Biasa!
Garuda Indonesia
Garuda Indonesia tidak terlepas dari sejarah bangsa dan perjuangan kemerdekaan, dimana sejarah penerbangan komersial di Indonesia
tidak lepas dari masa perjuangan rakyat Indonesia untuk kemerdekaan dan
upaya mempertahankan kemerdekaan itu sendiri. Sejarah dimulai
ketika Presiden Soekarno mendesak pengusaha dan warga Aceh mengumpulkan
dana untuk membeli pesawat terbang, demi mendukung mobilitas Presiden
sebagai kepala pemerintahan. Dana yang telah berhasil terkumpul
membuahkan satu pesawat Douglas DC-3 Dakota yang kemudian didaftarkan
sebagai RI-001 dengan nama “Seulawah” yang berarti “Gunung Emas”.
Karena ketatnya jadwal penerbangan, pesawat RI-001 harus menjalani proses pemeliharaan di luar Indonesia, dan pada tanggal 7 Desember 1948, pesawat RI-001 mendarat di Kalkuta untuk proses pemeliharaan. Namun, pada saat pesawat tersebut sedang mengalami proses pemeliharaan, pada tanggal 19 Desember 1948, pasukan militer Belanda meluncurkan agresi militer II. Bahkan ketika pesawat RI-001 telah selesai melewati proses pemeliharaan, pesawat tersebut tidak dapat kembali ke Indonesia. Di saat yang bersamaan, Pemerintahan Burma memerlukan pesawat terbang. Dalam rangka mengumpulkan dana untuk ketersediaan pramugari, akhirnya pemerintah memutuskan untuk menyewakan pesawat RI-001 pada pemerintah Burma. Pada tanggal 26 Januari 1949, pesawat RI-001 terbang dari Kalkuta ke Rangoon dengan nama “Maskapai Indonesia”.
Kemudian, pesawat
tersebut diberi nama “Garuda” oleh Presiden Soekarno di mana nama
tersebut diambil dari sajak Belanda yang ditulis oleh penyair terkenal
pada masa itu, Noto Soeroto; "Ik ben Garuda, Vishnoe's vogel, die zijn
vleugels uitslaat hoog bovine uw einladen", yang artinya, “Saya Garuda,
burung Vishnu yang melebarkan sayapnya tinggi di atas kepulauan Anda”. Pada
tanggal 28 Desember 1949, pesawat Douglas DC-3 Dakota PK-DPD, yang
telah diberi logo “Garuda Indonesian Airways” terbang dari Jakarta ke
Yogyakarta untuk menjemput Presiden Soekarno. Itulah saat pertama
pesawat tersebut terbang dengan nama "Garuda Indonesian Airways".
Pada Konferensi Asia Afrika bersejarah yang diadakan di Bandung, Jawa Barat 19 April 1955, Garuda Indonesia menjadi maskapai penerbangan resmi, dan menerbangkan delegasi dari 29 negara, termasuk Kepala Negara, ke Bandara Kemayoran, Jakarta Utara, sebelum melakukan perjalanan ke Bandung. Pada perayaan ulang tahun ke-50 Konferensi Asia Afrika,April 2005, Garuda Indonesia kembali menjadi maskapai resmi, yang menerbangkan 75 Kepala Negara,termasuk Bapak Kofi Annan, Sekretaris Jendral PBB dari Bandara Halim Perdana Kusuma di Jakarta ke tempat perayaan dilangsungkan di Bandung.
Karena ketatnya jadwal penerbangan, pesawat RI-001 harus menjalani proses pemeliharaan di luar Indonesia, dan pada tanggal 7 Desember 1948, pesawat RI-001 mendarat di Kalkuta untuk proses pemeliharaan. Namun, pada saat pesawat tersebut sedang mengalami proses pemeliharaan, pada tanggal 19 Desember 1948, pasukan militer Belanda meluncurkan agresi militer II. Bahkan ketika pesawat RI-001 telah selesai melewati proses pemeliharaan, pesawat tersebut tidak dapat kembali ke Indonesia. Di saat yang bersamaan, Pemerintahan Burma memerlukan pesawat terbang. Dalam rangka mengumpulkan dana untuk ketersediaan pramugari, akhirnya pemerintah memutuskan untuk menyewakan pesawat RI-001 pada pemerintah Burma. Pada tanggal 26 Januari 1949, pesawat RI-001 terbang dari Kalkuta ke Rangoon dengan nama “Maskapai Indonesia”.
![]() |
Garuda Indonesia (sumber) |
Pada Konferensi Asia Afrika bersejarah yang diadakan di Bandung, Jawa Barat 19 April 1955, Garuda Indonesia menjadi maskapai penerbangan resmi, dan menerbangkan delegasi dari 29 negara, termasuk Kepala Negara, ke Bandara Kemayoran, Jakarta Utara, sebelum melakukan perjalanan ke Bandung. Pada perayaan ulang tahun ke-50 Konferensi Asia Afrika,April 2005, Garuda Indonesia kembali menjadi maskapai resmi, yang menerbangkan 75 Kepala Negara,termasuk Bapak Kofi Annan, Sekretaris Jendral PBB dari Bandara Halim Perdana Kusuma di Jakarta ke tempat perayaan dilangsungkan di Bandung.
Garuda
Indonesia mulai melayani penumpang ke Bali pada tahun 1951 dengan
menggunakan Douglas Dakota DC-3. Di tahun 1969 Garuda meresmikan
penerbangan Denpasar-Sidney dengan menggunakan pesawat terbang Douglas
DC-8. Selama bertahun-tahun, Bali secara konsisten telah dinobatkan
sebagai “Pulau Terbaik di Dunia”, dan Garuda memainkan peran penting
dalam mengembangkan Bali sebagai tujuan turis internasional.
Pada bulan Juni 1956, untuk pertama kalinya Garuda Indonesia mengoperasikan penerbangan Haji dengan membawa rombonganke Saudi Arabia dengan Convair-340, dan kini Garuda telah menerbangkan lebih dari 100.000 rombongan Haji ke Jeddah dari Indonesia setiap tahunnya.
Pada bulan Juni 1956, untuk pertama kalinya Garuda Indonesia mengoperasikan penerbangan Haji dengan membawa rombonganke Saudi Arabia dengan Convair-340, dan kini Garuda telah menerbangkan lebih dari 100.000 rombongan Haji ke Jeddah dari Indonesia setiap tahunnya.
Garuda indonesia sempat dinyatakan bangkrut pada tahun 1998 karena
krisis ekonomi dan tidak dapat melunasi sebagian hutang-hutangnya, maka
untuk dapat beroperasi kembali hutang perusahaan dialihkan ke investasi
perusahaan sehingga tidak jadi dinyatakan bangkrut. Sejak Juni 2007 Garuda dilarang menerbangi rute Eropa karena alasan keselamatan,
namun larangan ini dicabut pada tahun 2009 yang berarti
bahwa Garuda telah seluruhnya memenuhi standar keselamatan penerbangan
internasional. Kini Garuda Indonesia menjadi maskapai terbaik di dunia
mengalahkan Singapore Airlines, dalam hal pelayanan, dan kepuasan, serta
loyalitas konsumen. Garuda
Indonesia telah sukses bangkit dari keterpurukan. Garuda Indonesia pun
telah mencanangkan program "Quantum Leap" yang mentargetkan pada tahun
2015 jumlah armada Garuda Indonesia menjadi 153 pesawat, cost structure
yang jauh lebih efisien, dan jumlah penumpang menjadi lebih dari 27 juta
penumpang per tahun.
Persamaan Ketiganya
Untung Suropati, Ibu Khalifah, juga Garuda Indonesia memiliki kesamaan tekat, yaitu tekat untuk berjuang dengan tekat yang bulat dan semangat yang tinggi untuk Indonesia. Bagi saya ketiganya merupakan pahlawan bagi Indonesia yang patut dicontoh. Untung Suropati adalah Pahlawan yang benar-benar menarik, dimana beliau memberikan banyak pelajaran hidup bahwa dengan
keteguhan hati, semangat dan kecerdasan mampu membawanya dari hanya
seorang budak menjadi seorang raja yang disegani baik dari rakyat,
kawan, maupun lawan. Sekali berperang melawan penjajah, maka tekat
tersebut tetap dipegang hingga titik darah penghabisan. Hal inilah yang
patut kita teladani sebagai penerus bangsa, dimana beragam tantangan
akan terus hadir dalam perjalanan bangsa Indonesia ini.
![]() |
Lambang Indonesia (sumber) |
Jika di zaman Untung Suropati, penjajah itu jelas terlihat wujudnya seperti Belanda (VOC), maka di zaman Ibu Kholifah sebagai pahlawan masa kini, penjajah itu berwujud kebodohan, kemalasan, korupsi dan masih banyak lagi. Ibu Kholifah meski hanya lulusan paket B tidak patah semangat untuk terus belajar, hal ini menunjukkan perjuangannya untuk melawan kebodohan dengan semangat dan keingintahuan yang tinggi. Ibu Kholifah banyak membantu para petani dan turut berjuang melestarikan lingkungan hidup, bahkan hingga mendapatkan penghargaan Kalpataru. Sedangkan Garuda indonesia adalah suatu maskapai yang mengharumkan nama bangsa. Bagaimana juga Garuda telah memperkenalkan Indonesia di kancah Internasional dengan kualitas penerbangan dan pelayanan terbaiknya. Bahkan meski pernah terpuruk, Garuda Indonesia mampu berjuang untuk bangkit dan menjadi kebanggaan Bangsa Indonesia. Marilah kita belajar dari ketiganya untuk menjadi teladan yang patut dibanggakan bangsa kita, Bangsa Indonesia.
*tulisan ini diikutkan Lomba Visa-Garuda Indonesia Blog Competitionyang diselenggarakan dalam rangka Kompasianival.
oleh Istiqomah Primasari
sumber:
http://id.wikipedia.org/wiki/Garuda_Indonesia
http://www.garuda-indonesia.com/gi_id/Tentang+Garuda+Indonesia/Profil+Maskapai/Korporat/Sejarah.page
http://alamendah.wordpress.com/2011/04/13/perempuan-perempuan-pahlawan-lingkungan/
http://www.harianbhirawa.co.id/publik/8994--masuk-21-besar-kholifah-diusulkan-dapat-kalpataru
http://lingkunganharmonis.blogspot.com/2011/05/penerima-penghargaan-kalpataru-2010.html
http://www.surabayapagi.com/index.php?3b1ca0a43b79bdfd9f9305b8129829628c8c532f37aacd645fa34eda4c9bb42d
http://greenstudentjournalists.blogspot.com/2011/08/our-green-inspiration-kholifah-ibu.html
http://m.beritajatim.com/detailnews.php/6/Politik_&_Pemerintahan/2012-06-04/137494/Kabupaten_Pasuruan_Borong_Penghargaan_Presiden
http://id.wikipedia.org/wiki/Untung_Suropati
http://id.wikipedia.org/wiki/Babad_Pasuruan
http://id.wikipedia.org/wiki/Sejarah_Kota_Pasuruan
http://sejarah.kompasiana.com/2011/01/07/untung-suropati-dan-perbudakan/
http://jawatimuran.wordpress.com/2012/09/13/historis-untung-surapati/
http://uda-faisal.blogspot.com/2012/03/maskapai-penerbangan-yang-berhasil.html
http://wartawarga.gunadarma.ac.id/2011/07/mengingat-tentang-lambang-garuda/
0 komentar