Ringankan Tangan dan Pena Kita untuk Pendidikan Indonesia
Entah apa yang harus saya tulis mengenai pendidikan? Saya merasa tidak terlalu memahami seluk beluk bidang pendidikan saat ini. Beberapa waktu yang lalu, saya sedang surfing di internet dan mengetahui adanya lomba Blog GIB, disini. Jujur saya akhirnya mencoba membuka-buka site yang membicarakan masalah pendidikan dan mulai tersadar bahwa masalah pendidikan saat ini begitu komplek. Tentu saja pemerintah tidak akan bisa menyelesaikan masalah pendidikan ini tanpa bantuan seluruh komponen masyarakat, dan adanya GIB ini sangat diharapkan bisa menjadi jembatan atara ide dan usaha untuk membangun pendidikan Indonesia yang lebih baik.
#Tentang GIB
Peran pendukung pendidikan, seperti Kementerian Pendidikan, kamar
dagang, dan pemerintah daerah adalah memastikan aspirasi para pihak yang
peduli akan perbaikan pendidikan, sehingga dengan fungsinya
kebijakan-kebijakan pun mendukungnya. Selanjutnya, peran mitra seperti perusahaan swasta dan institusi yang mengalokasikan dana corporate social responsibility (CSR)
dapat menjalankan program tanggung jawab sosial berupa perbaikan
kualitas pendidikan.
Adapun pihak fasilitator, berupa yayasan, LSM, duta
dan relawan, dapat mengedepankan program perbaikan kualitas
pendididikan. Fasilitator dapat menawarkan program yang bisa membawa
pendidikan Indonesia melahirkan calon pemimpin masa depan yang mampu
menjawab tantangan global. Sementara itu, para pemberi pengaruh, mulai dari media, industri
hiburan, pengusung pendidikan, tokoh masyarakat, penggiat sosial media,
orangtua, kepala sekolah, sampai institusi sekolah, berfungsi untuk
meningkatkan pemahaman akan pentingnya pendidikan melalu penyebaran
informasi untuk memperbaiki kualitas guru dan sekolah di Indonesia.
#Jika Guru Adalah Pahlawan, maka Kita?
Saya sangat tertarik dengan ide GIB dimana seluruh komponen masyarakat memang harus turut ambil bagian dalam pendidikan di Indonesia. Memang guru adalah pahlawan bagi anak didiknya, saya tentu setuju. Namun bukankah setiap kita bisa menjadi pahlawan bagi negeri ini dengan peran yang kita ambil. Maka sepertinya saya bisa berperan sebagai influencer alias pemberi pengaruh dengan mulai menulis mengenai isu-isu pendidikan di blog maupun media sosial yang ada.
Sembari membaca beberapa artikel pendidikan, saya kembali mengingat betapa besar dan penting peran guru dalam kehidupan saya dan keluarga bahkan seluruh bangsa ini. Saya tidak bisa membayangkan bagaimana jadinya saya maupun orang tua saya dulu, juga anak-anak saya nantinya tanpa adanya guru. Akan sangat sulit memahami setiap buku pelajaran dan setiap ilmu pengetahuan yang ada tanpa adanya pengajar alias guru alias pemberi contoh.
![]() |
Seorang Guru Sedang Mengajar (sumber) |
Saya sering menemui anak-anak SMP dan SMA yang sepertinya tidak memiliki antusiasme belajar, mereka bahkan bolos sekolah dan kurang memiliki sopan santun. Bukankah
di usia tersebut, mereka seharusnya giat belajar sebagaimana status
mereka sebagai pelajar? Kadang, saya mengingat diri saya sendiri dimana saat sekolah dulu memang ada beberapa pelajaran yang menjadi tidak menarik akibat cara guru mengajar, tapi tentu saja saya dan teman-teman tidak lantas bolos sekolah. Beda dulu, beda sekarang, maka saya coba menerka apakah
mungkin ini akibat guru-guru mereka yang kurang perhatian? Ataukah
mungkin karena keluarga yang acuh tak acuh dengan pendidikan? Lantas siapa yang seharusnya bertanggung jawab?
Saya pikir semua komponen masyarakat memiliki hak dan kewajiban yang sama atas pendidikan. Sebagai orang tua seharusnya tidak serta merta menyerahkan tanggung jawab pendidikan pada guru karena bagaimana pun orang tua lah asal mula pendidikan masing-masing anak. Apa yang terjadi di rumah maupun di sekolah sangat mungkin mempengaruhi antusiasme belajar anak. Misalnya saat orang tua terlalu sibuk dengan pekerjaan maka perhatian pada anak-anak pun bisa berkurang utamanya pada pendidikan mereka. Lantas yang terjadi anak mencoba mencari perhatian pada hal lain. Bersyukur jika anak masih bisa meng-handle dirinya untuk bergelut dengan kegiatan positif, lantas guru-guru di sekolahnya pun adalah para pendidik yang berkualitas plus perhatian. Bagaimana jika sebaliknya?, tentu kita tidak ingin hal-hal buruk menimpa anak-anak kita bukan?
Seluruh komponen masyarakat memang harus turut andil, karena dalam kehidupan sosial apa yang kita lakukan akan saling memberikan pengaruh bagi yang lain. Suatu contoh saat ada saudara atau tetangga yang kurang perhatian terhadap pendidikan anak-anak seharusnya kita mengingatkan mereka. Karena bisa jadi akibat kurang perhatian tersebut anak-anak mereka menjadi anak yang nakal, tidak antusias dalam belajar dan sebagainya yang bisa jadi berpengaruh pula pada anak-anak kita yang dalam keseharian bergaul dengan anak-anak tersebut. Mungkin kita akan memberi peringatan pada anak-anak kita untuk senantiasa berhati-hati dalam pergaulan. Namun, bagaimana tanggung jawab kita sebagai saudara, tetangga dan masyarakat? Mau tidak mau, bagaimanapun pendidikan di negara ini tergantung pada andil seluruh masyarakatnya.
#Selandia Baru, Sang Jawara di Index Pendidikan Dunia
Pendidikan di Selandia Baru (New Zealand) adalah salah satu hal yang mungkin dapat dijadikan contoh ataupun masukan untuk pendidikan Indonesia. Alasan saya memilih Selandia Baru karena negara ini menduduki peringkat pertama dalam Education index dimana negara kita berada diperingkat ke 124.
Pendidikan di Selandia Baru dibagi menjadi dua bagian yaitu primary school (tahun pertama sampai tahun ke-8) dan secondary school (tahun ke-9 sampai tahun ke-13), dimana khusus primary school beban belajarnya tidak seberat SD dan SMP di Indonesia. Di indonesia kelas 1 SD dimulai pada awal tahun ajaran, maka di Selandia Baru setiap anak masuk primary school saat mereka berulang tahun ke-5 kapanpun jatuhnya hari ulang tahun tersebut. Jika berulang tahun di tengah tahun pertama anak tersebut masuk kelas 1 dan jika berulang tahun di tengah tahun kedua maka masuk kelas 0.
Sekolah berlangsung setiap hari senin sampai jum'at pukul 9 pagi hingga pukul 3 siang. Sekolah dibagi menjadi 4 term yang dimulai dari akhir januari atau awal februari dan berakhir pada pertengahan Desember setiap tahun, dimana setiap akhir term ada masa libur. Ada 8 mata pelajaran yang diajarkan yaitu english, art, health and physical education, learning languages,mathematics and statistics, science, social sciences, dan technology. Semua pelajaran diberikan dalam situasi yang menyenangkan dan tetap merangsang anak untuk berfikir kritis dengan perbandingan guru murid 1:20 yang memungkinkan anak mengembangkan potensinya.
Semua anak selalu naik kelas, namun dikelompokkan sesuai dengan kemampuannya sehingga setiap anak merasa percaya diri. Hasil evaluasi belajar tidak diberikan dalam bentuk angka melainkan bentuk uraian sesuai standart yang berlaku nasional dimana setiap sekolah mempunyai program pemberian penghargaan untuk murid-murid yang berprestasi. Semua sekolah memiliki fasilitas, kualitas guru dan mutu pengajaran yang sama yang selalu dimonitor oleh pemerintah dan tidak ada perbedaan kualitas antara satu sekolah dengan yang lain .
Pada secondary school atau setingkat SMA juga dibagi menjadi 4 term yang dimulai dari akhir januari atau awal februari. Meski masa sekolah berakhir lebih cepat dari primary school, secondary school memiliki waktu sekolah yang lebih lama dimana setiap hari murid-murid mengikuti jadwal pelajaran tertentu yang berbeda setiap harinya. setiap hari mereka masuk ke kelas yang diasuh oleh seorang wali kelas untuk diabsensi lalu menyebar ke bermacam-macam kelas tergantung jadwal pelajaran masing-masing. Perbandingan guru dan murid juga berkisar 1:20. Untuk murid-murid di kelas 9 dan 10 ada pelajaran inti seperti english, maths, science dan physical education. Selain itu murid diminta memilih dari serangkaian pelajaran yang disediakan sekolah diantaranya technology, arts dan languages selain english. Biasanya dipertengahan kelas 10 murid diminta untuk memilih pelajaran-pelajaran yang akan diambil di kelas 11 sesuai minatnya. Pelajaran science masih wajib diambil sampai kelas 11 sedangkan pelajaran English dan maths wajib dipelajari sampai kelas 12. Untuk pelajaran English dan maths anak dimasukkan ke dalam kelas yang sesuai dengan kemampuannya. Jadi bisa saja dua anak sama-sama di kelas 11 tetapi kelas English dan maths-nya di kelas yang berbeda karena kemampuan kedua anak ini berbeda.
Mulai di kelas 11 sampai 13 murid-murid mengikuti NCEA (National Certificate of Educational Achievement) di level 1 (kelas 11), level 2 (kelas 12), level 3 (kelas 13) dan mengikuti ujian akhir untuk setiap level di akhir tahun. Namun setiap murid juga dinilai proses belajarnya selama satu tahun ajaran di masing-masing level oleh guru masing-masing melalui tes, project atau internal exams. Sekolah di secondary school sangat berbeda suasananya dengan primary school dimana secondary school lebih serius dengan jauh lebih banyak PR (pekerjaan rumah), tugas dan project yang harus diselesaikan dibanding di primary school. Sekolah dengan serius menyiapkan murid-muridnya untuk siap masuk universitas/institut atau masuk sekolah kejuruan (trade school). Misalnya untuk murid-murid yang mengambil mata pelajaran art design di secondary school mereka menghasilkan portfolio yang berisi desain-desain yang dibuat murid tersebut yang diuji di NCEA yang kemudian bisa dipakai untuk mendaftarkan diri kuliah di jurusan art design di universitas.
Sekolah berlangsung setiap hari senin sampai jum'at pukul 9 pagi hingga pukul 3 siang. Sekolah dibagi menjadi 4 term yang dimulai dari akhir januari atau awal februari dan berakhir pada pertengahan Desember setiap tahun, dimana setiap akhir term ada masa libur. Ada 8 mata pelajaran yang diajarkan yaitu english, art, health and physical education, learning languages,mathematics and statistics, science, social sciences, dan technology. Semua pelajaran diberikan dalam situasi yang menyenangkan dan tetap merangsang anak untuk berfikir kritis dengan perbandingan guru murid 1:20 yang memungkinkan anak mengembangkan potensinya.
![]() |
Sistem Pendidikan Selandia Baru (sumber) |
Pada secondary school atau setingkat SMA juga dibagi menjadi 4 term yang dimulai dari akhir januari atau awal februari. Meski masa sekolah berakhir lebih cepat dari primary school, secondary school memiliki waktu sekolah yang lebih lama dimana setiap hari murid-murid mengikuti jadwal pelajaran tertentu yang berbeda setiap harinya. setiap hari mereka masuk ke kelas yang diasuh oleh seorang wali kelas untuk diabsensi lalu menyebar ke bermacam-macam kelas tergantung jadwal pelajaran masing-masing. Perbandingan guru dan murid juga berkisar 1:20. Untuk murid-murid di kelas 9 dan 10 ada pelajaran inti seperti english, maths, science dan physical education. Selain itu murid diminta memilih dari serangkaian pelajaran yang disediakan sekolah diantaranya technology, arts dan languages selain english. Biasanya dipertengahan kelas 10 murid diminta untuk memilih pelajaran-pelajaran yang akan diambil di kelas 11 sesuai minatnya. Pelajaran science masih wajib diambil sampai kelas 11 sedangkan pelajaran English dan maths wajib dipelajari sampai kelas 12. Untuk pelajaran English dan maths anak dimasukkan ke dalam kelas yang sesuai dengan kemampuannya. Jadi bisa saja dua anak sama-sama di kelas 11 tetapi kelas English dan maths-nya di kelas yang berbeda karena kemampuan kedua anak ini berbeda.
Mulai di kelas 11 sampai 13 murid-murid mengikuti NCEA (National Certificate of Educational Achievement) di level 1 (kelas 11), level 2 (kelas 12), level 3 (kelas 13) dan mengikuti ujian akhir untuk setiap level di akhir tahun. Namun setiap murid juga dinilai proses belajarnya selama satu tahun ajaran di masing-masing level oleh guru masing-masing melalui tes, project atau internal exams. Sekolah di secondary school sangat berbeda suasananya dengan primary school dimana secondary school lebih serius dengan jauh lebih banyak PR (pekerjaan rumah), tugas dan project yang harus diselesaikan dibanding di primary school. Sekolah dengan serius menyiapkan murid-muridnya untuk siap masuk universitas/institut atau masuk sekolah kejuruan (trade school). Misalnya untuk murid-murid yang mengambil mata pelajaran art design di secondary school mereka menghasilkan portfolio yang berisi desain-desain yang dibuat murid tersebut yang diuji di NCEA yang kemudian bisa dipakai untuk mendaftarkan diri kuliah di jurusan art design di universitas.
Demikianlah sistem pembelajaran yang ada di Selandia Baru. Suasana kelas yang menyenangkan, semua anak naik kelas, tidak ada pembedaan sekolah dimana kualitas sistem, pengajar dan fasilitas masing-masing sekolah sama, keseriusan sekolah untuk menyiapkan murid-muridnya masuk universitas, kesemuanya benar-benar menjadi perhatian penuh pemerintah Selandia Baru. Memang saat ini kita tidak bisa serta merta membandingkan sistem pembelajaran tersebut karena bagaimanapun kondisi sosial dan ekonomi kita dan Selandia Baru cukup berbeda. Selandia Baru merupakan negara maju sedangkan Indonesia masih merupakan negara berkembang. Tapi bukan tidak mungkin justru dengan memulai untuk merombak kualitas pendidikan, tingkat sosial-ekonomi kita menjadi lebih baik. Maka marilah kita dukung Gerakan Indonesia Berkibar ini dengan segala bentuk peran yang kita mampu sebagai bentuk kepedulian terhadap pendidikan di Indonesia.
*tulisan ini diikutkan Lomba Blog Indonesia Berkibar dengan Tema "Guruku Pahlawanku"
oleh Istiqomah Primasari
sumber :
http://indonesiaberkibar.org/tentang-indonesia-berkibar
oleh Istiqomah Primasari
sumber :
http://indonesiaberkibar.org/tentang-indonesia-berkibar
http://en.wikipedia.org/wiki/Education_Index
http://en.wikipedia.org/wiki/List_of_countries_by_Human_Development_Index
http://www.sekolahdinewzealand.com/index.php?option=com_content&view=article&id=24&Itemid=24
0 komentar