Dua Sisi yang Menjadi Pilihan Hidupku :')
Tulisan ini diikutkan pada 8 Minggu Ngeblog bersama Anging Mammiri, minggu keenam. Minggu keenam berarti sudah tinggal 2minggu depan eksis nulis with angingmamiri yak? hik.. (lho kug jadi sedih?)
Dua sisi. Sepertinya dalam menjalani kehidupan ini kita akan sering menemui dua sisi pilihan yang membuat pikiran dan hati berkerja lebih keras. Saya pun sering mengalami hal ini. Akan tetapi saya mencoba untuk tetap stay cool (kalo pas lagi cool ^^) dan Bismillah mengambil hikmah yang ada di setiap pilihan. Salah satu yang pernah terjadi pada saya adalah ketika mengikuti tes ODP Bank Muamalat Yogyakarta.
Yah, cerita ini bermula ketika kontrak kerja saya di Disnakersostrans Kabupaten Pasuruan harus berakhir, sehingga saya pun mencoba mencari peruntungan lain dengan melamar ke sebuah Bank melalui salah satu situs lowongan kerja terbesar di Indonesia (eh, iya gak ya?). Tidak lama hingga saya tahu telah ada panggilan tes tulis yang dilaksanakan di Cabang Muamalat Yogyakarta-Tugu. Padahal saat itu, saya masih ada di Pasuruan. Bersyukur, Alhamdulillah suami telah tinggal di Jogja lebih dulu sehingga saya tidak terlalu sulit untuk mendapatkan tempat untuk ditinggali. Ketika itu saya memang belum bisa mendampingi suami di Jogja lebih awal karena satu dan lain hal, hingga Alhamdulillah akhirnya ada panggilan tes kerja ini.
Sayapun segera berangkat ke Jogja-first-alone alias by myself untuk pertama kalinya karena sebelumnya pernah ke Jogja tapi kalo gak sama ibu bapak yah sama suami tercinta. Subhanalloh, padahal saat itu kondisi saya masih belum benar-benar pulih karena trauma keguguran, sehingga seperti mengangkat barang yang agak berat saja terasa sangat berat. Saya pun mudah lelah. Namun, karena panggilan tes ini seperti hawa baru bagi saya dan akan menjadi sebuah momen bagi saya untuk dapat bersama suami di Jogja, akhirnya Bismillah sekuat tenaga saya berangkat.
Saat itu saya membawa pakaian yang telah saya persiapkan jika nantinya diterima di Muamalat, saya juga membawa setrika, sepatu, dan sebagainya. Saya juga "gumun" dalam hati, kug pede banget diterima, orang sebelum-sebelumnya tes di bank-bank yang lain gak ada yang masuk. Entahlah tapi mungkin memang selalu ada kekuatan keyakinan. Dimana ketika kita yakin, optimis terhadap suatu hal, maka Insyaalloh Alloh memberikan jalan kemudahan di sana.
Saya mencoba membeli tiket kereta api di antar oleh ibu dan bapak di stasiun, namun karena memang saat ini tiket kereta bahkan harus dipesan jauh-jauh hari, maka sayapun tidak mendapatkan tiket. Akhirnya saya memutuskan untuk tetap berangkat dengan menaiki bis Surabaya dari Pasuruan kota. Bis Surabaya sekitar pukul 7pagi adalah sangat padat, hingga mau tak mau sayapun berdiri hingga akhirnya ada salah satu penumpang yang merenggangkan tempat duduk di bangku ekstra samping supir (yang sebenarnya agak berasa panas karena tempat duduk tersebut adalah tempat mesin bis). Alhamdulillah karena tidak jadi berdiri, meski tetap harus menaikkan tas tenteng yang super berat sendiri (salah sapa coba? ya gak ada yang salah., orang resiko ditanggung sendiri :P).
Sampai di Bungurasih sayapun segera menuju lokasi bis antar propinsi. Saat itu karena memang harus ngirit alias berhemat, saya pun naik bis sumber selamat (btw, saya agak keki karena bis ini sodaranya sumber kencono yang terkenal Luar Biasa itu!, tapi ya mau gimana lagi deh). Eh, ternyata bisnya Alhamdulillah lumayan bersih banget, full AC dan bangkunya lebar-lebar bisa dibuat selonjoran dan naruh barang di bawah tempat duduk. Wah, saat itu pak supirnya muterin lagu-lagu love balad, dan saya pun Subhanalloh sangat menikmati perjalanan ke Jogja yang penuh harapan itu.
Hingga tak terasa sudah sampai di Madiun, bis pun berhenti lebih lama karena sopir dan kondekturnya harus maem pecel madiun di terminal (haha, aslinya saya mupeng berat ikut marung pecel. Sayangnya mau beli sendiri isin bow, soalnya tadi udah maem bekal satu kotak tupperware. Coba ada suami yah!gyahaha). Setelah dari Madiun perjalanan di lanjutkan dan tiba-tiba aja udah sampai di Jogja pas Magrib (kug cepet banget rasanya, ini pengaruh bis yang full music nih!).
Di terminal Giwangan suami sudah menjemput, namun karena saya baru dua kali nyampe terminal ini, saya pun bingung dan akhirnya memutuskan menunggu suami menemukan saya di tempat tunggu bis trans Jogja yang banyak bule nya. Hingga akhirnya suami menemukan saya, kamipun segera menuju ruko tempat tinggal sementara suamiku.
Cerita kupercepat hingga hari H tes tulis di bank Muamalat Tugu Jogja. Sampai di sana masih pagi tapi sudah banyak peserta tes yang lain. Saya pun mulai minder, karena dandanan saya biasa banget bo'. Pake batik coklat, celana hitam, sepatu hitam dan jilbab segi empat juga warna hitam. Yang bikin makin minder, pserta lain berdandan oke-oke, sedangkan saya mung pake bedak bayi dan lip ice. Alhasil berasa jadi bolang (hahah, lebay!)
Akhirnya tes pun dimulai dan langsung pengumuman yang dilanjut ke sesi wawancara. Karena Alhamdulillah lolos tes tulis, sayapun ikut wawancara. Sesaat setelah solat dhuhur, saya pun mengikuti tes wawancara yang kebetulan saat itu saya dapet pewawancara seorang bapak dari Bank Muamalat cabang Solo. Orangnya agak serem dikit, eh ternyata pas wawancara Alhamdulillah cukup lancar, bahkan saya diajari banyak banget sama beliaunya. Bahwa kalau di ODP itu yang paling penting ntar yah marketing, dan musti diingat kalo marketing beda dengan sales, dst, dst hingga wawancara pun selesai dan pegumuman berikutnya yaitu tes psikologis.
Tes psikologis diadakan sekitar seminggu kemudian. Sayapun Alhamdulillah lolos dan mengikuti wawancara kembali mengenai pengalaman kerja dan organisasi. Wah, pas tes ini saya disodori pertanyaan-pertanyaan yang seringkali memojokkan (sama sih dengan pas wawancara pertama, tapi ini lebih aplikatif).
Dan Alhamdulillah seminggu berikutnya saya mendapat informasi baik melalui sms dan e-mail bahwa saya lolos ke tes berikutnya lagi yaitu tes Toefl yang diadakan di LIA sekitaran Condong Catur. Byuh, ternyata sebelum tes Toefl yang listening dan reading, ada tes speaking (gubrak, padahal gak latihan blas, alhasil saya cuma berbekal nekat).
Lolos tes Toefl, sayapun sampai pada tes wawancara bersama pejebat Bank yang langsung didatangkan dari Jakarta. Subhanalloh, saya benar-benar baru pertama kali wawancara dengan ibu-ibu pejabat Bank. Ternyata wawancaranya isisnya ngobrol santai. Sayapun ditanyai selama masa tunggu dari habis kontrakan di Disnaker hingga saat itu apa saja yang saya lakukan. Alhamdulillah, kebetulan saat itu saya mencoba membuat handy craft dari flanel dan dipasarkan di sekitaran teman-teman sendiri, tetangga-tetangga, nitip di toko dan di pameran. Ternyata ibu pejabat Bank itu malah curhat sama saya, bahwa jika beliau menjadi saya, maka beliau akan lebih memilih posisi saya agar dapat dengan maksimal mendampingi anak-anaknya yang beranjak remaja. Beliau bercerita bahwa sering diprotes anaknya karena sering bepergian luar kota dan tidak menghadiri momen penting anak-anaknya hingga harus mewakilkannya pada asisten rumah tangga. Saya saat itu benar-benar tidak tahu apa yang berkecamuk dalam benak ini, tetapi dua sisi untuk menjadi wanita karir dan seorang ibu rumah tangga yang semacam ini ternyata tidak sinergis karena bagaimanapun akhirnya harus ada yang dikorbankan (meski penggunaan kata dikorbankan itu terlalu sarkasme, tapi memang demikianlah kenyataannya).
Setelah wawancara tersebut saya menjadi berfikir bagaimana nanti jika saya berada di posisi beliau, karena jika sudah sampai posisi wawancara pejabat ini yang saya ketahui sudah begitu dekat denga final tes. Saya pun melihat dari teman-teman yang awalnya berjumlah ribuan saat tes tulis, saat wawancara pejabat Bank tersebut hanya tinggal sekitar 6orang. Sampai minggu berikutnya saya mendapat sms untuk mengikuti tes kesehatan di Cito, sayapun mendapati hanya sekitar 4orang teman yang mengikuti tes kesehatan.
Seminggu setelah tes di Cito, seperti biasa ada pemberitahuan lewat sms. Dan ternyata saya lolos tes untuk mengikuti final tes di Jakarta yang akomodasinya dibiayai Bank Muamalat langsung. Dan terakhir yang saya tahu hanya tinggal saya dan satu teman saya yang ikut ke Jakarta ini.
Disinilah mulai dilema itu muncul. Dua sisi. Yah, saya sebagai seorang istri yang bakalan menjadi ibu dari anak-anak saya juga dan keinginan saya untuk berkarir di dunia perbankan yang sudah di depan mata. ODP adalah 4tingkat di atas perekrutan dari bawah semisal perekrutan CS atau teller karena ODP berjenjang karir untuk menjadi leader di Bank Muamalat. Setelah final tes pun akan ada perjanjian kontrak kerja yang diawali dengan pendidikan selama kurang lebih 6bulan di Jakarta. Saya pun galau, karena estimasi awal saya hanya akan berkarir di Jogja dan dengan leluasa dapat tetap mendampingi suami tercinta.
And then, ternyata ada pemberitahuan ulang bahwa ternyata saya dinyatakan tidak lolos tes kesehatan karena satu dan lain hal yang kemuadian saya ketahui ternyata adalah adanya janin di rahim saya. Yah, baby Naura was identified yang akhirnya menghapus ke galauan saya. Inilah jawaban Alloh, bahwasannya saya mungkin memang lebih baik di Jogja untuk tetap dapat mendampingi suami. Wallohua'lam.
From here, saya pun belajar banyak tentang dua sisi yang memang kemudian harus dipilih salah satu bagi saya. Hingga kini saya belum lagi mencari kerja alias berkarir di luar. Meski awalnya tentu tak mudah. Namun, bagi saya paling tidak dengan telah mengikuti tes hingga sejauh itu saya teleh meyakinkan diri sendiri bahwa Alhamdulillah saya sesungguhnya mampu, dan tentu segalanya atas izin Alloh. Hingga saya tak perlu minder lagi (hehe :')).
Dan Alhamdulillah untuk sekarang saya pun memilih untuk berkarir di rumah sebagai ibu rumah tangga dengan tetap berusaha meraih mimpi-mimpi., Bismillah tentu dengan suami tercinta dan baby Naura.
0 komentar