Aroma Bakaran Dedaunan
Cerita di balik Aromaku adalah tentang aroma bakaran dedaunan hasil rontokan pohon trembesi yang berserak di depan rumah. Hingga setiap kali aku melewati suatu tempat samapai kini tinggal di Jogja yang cukup (masih) banyak pepohonan dan masyarakatnya masih manual mengolah sampah yaitu dengan membakarnya, maka aku akan selalu menikmati aroma yang sama seperti di rumah.
Pohon Trembesi di depan rumah di Pasuruan |
Meski berbeda jenis daun, tetapi aroma bakaran dedaunan dan sekedar sampah rumah tangga akan memiliki perbedaan. Bagaimana aku tahu, adalah karena rumah kedua orang tuaku di Pasuruan berada tepat di samping sebuah pasar yang rimbun pepohonan trembesi. Dengan kerimbunan itu, sehari-hari pohon trembesi menghasilkan sampah dedaunan yang rontok karena tertiup angin atau memang saat kemarau (kata lain musim panans-nya Indonesia). Jika sudah begitu maka tugasku tiap usai sholat ashar adalah menyapu halaman dengan sapu lidi. Aku menyapunya hingga bersih karena ada teman yang bilang, kalau aku menyapu dengan tidak bersih maka nanti suamiku bakalan berkumis (elahdalah, masalah buat gue?hihi..bukannya makin manis yah!kayak mas adam nya mbak inul daramuda >.<)
Setelah menyapu biasanya sampah daun yang sudah kukumpulkan jadi satu akan kubakar. Subhanalloh aromanya.., selalu terngiang di benakku.
Aroma dedaunan itu seperti aroma therapi rasa kangenku pada rumah di Pasuruan. Saat menghirupnya sambil memejamkan mata, akan langsung membuatku kembali ke rumah di tahun 90an, saat aku masih SD dan menyapu dikala sore hari. Tiba-tiba saja memori masa lalu bermunculan, menghadirkan jenak waktu tersendiri yang membuatku semakin hanyut. Yah, lantas semuanya begitu indah. Seringkali jika di saat yang sama aku mengalami masalah maka masalahku itu seakan menguap tergantikan solusi. Jika di saat yang sama aku sedang miskin ide menulis langsung saja bermunculan ide.
Subhanalloh yah, aroma memang membangkitkan berjuta kenangan, yang seringkali membangun masa kini kita menjadi lebih indah. Subhanalloh telah menciptakan hidung sebagai pengindra yang sangat luar biasa karena reseptornya langsung terekam otak dan menjenakkan jiwa, membuat Semangatku recharge lagi :).
4 komentar
Bahkan aroma bakaran sampahpun bisa menggugah kenangan ya mbak :)
BalasHapusSemoga sukses dengan GAnya.
iyah bunda niken.. ^^
Hapusaamiin..
Loh ada blogger dari Pasuruan, nih. Gimana Mbak, sekarang suaminya berkumis gak ? hehehe
BalasHapusMatur nuwun partisipasnya, Mbak, sudah tercatat sebagai peserta :)
hahah..iya ini..kug d WB ga ada org pasuruan, saya jd ngikut jogja aja deh :)
Hapusok.kang..siappp..sama2.