­

sumber Sobat blogger, Alhamdulillah di tahun ini saya stay di Jogja dan berkesempatan untuk menghadiri undangan Royal Wedding Kesultanan...

Javanese Royal Wedding

By 15.00

sumber
Sobat blogger, Alhamdulillah di tahun ini saya stay di Jogja dan berkesempatan untuk menghadiri undangan Royal Wedding Kesultanan Yogyakarta sebagai tamu : rakyat biasa. Well, sayapun ingin berbagi sedikit yang saya tahu tentang Keraton Yogyakarta dan Their Royal Wedding.

FYI, Sri Sultan Hamengku Buwono X memiliki lima orang putri:

  1. GRA Nurmalita Sari/GKR Pembayun
  2. GRA Nurmagupita/GKR Condrokirono
  3. GRA Nurkamnari Dewi /GKR Maduretno
  4. GRA Nurabra Juwita/GKR Hayu
  5. GRA Nurastuti Vijareni / GKR Bendoro

Dan tahun ini Sultan menggelar pernikahan putri keempatnya yaitu GKR Hayu dengan KPH Notonegoro, pria asal Kudus. Dimana prosesi pernikahan digelar selama 3 hari, mulai 21-23 Oktober 2013.

GKR Hayu dan KPH Notonegoro
Pertemuan GKR Hayu dengan KPH Notonegoro berawal dari dunia maya. Sebagai sesama alumni SMA Negeri 3 Yogyakarta (Padmanaba), mereka berdua tak sengaja bertemu dalam grup chatting MIRC Padmanaba sekitar tahun 2000.

Tepat saat musim panas tahun 2003 di Amerika Serikat (AS)mereka berdua resmi berpacaran. Saat itu, GKR Hayu menjalani studi di Jurusan Ilmu Komputer Steven Institute of Technology, AS. sedangkan Notonegoro melanjutkan studi pascasarjana (S-2) Jurusan International Development School of Economic Sciences, Washington State University, AS. Setelah beberapa saat, pasangan ini harus berpisah sementara waktu karena Hayu melanjutkan studi ke Bournemouth University, Inggris, dan Notonegoro fokus pada karier di lembaga Perserikatan Bangsa- Bangsa. Sehingga mereka berdua mengalami LDR juga lho.

Kembali ke prosesi pernikahan..

Prosesi telah dimulai pada hari Senin 21 Oktober 2013 dengan siraman dan nyantri bagi calon pengantin putra, KPH Notonegoro. Sementara calon pengantin putri GKR Hayu melaksanakan sungkeman di Kraton Kilen dan upacara siraman. Air yang digunakan siraman berasal dari tujuh mata air yang ada di lingkungan Keraton, air tersebut ditaburi kembang setaman.

sumber
Dalam prosesi siraman ini, GKR Hayu dipandu ahli rias manten legendaris, Tienuk Riefki, yang sudah jadi langganan perias manten putri-putri lain Sultan HB X. Menurut beliau, siraman mengandung arti memandikan calon mempelai yang disertai dengan niat membersihkan diri agar menjadi bersih dan murni atau suci lahir dan batin. Kemudian pada Senin malam Ngarso Dalem Sri Sultan Hamengku Buwono X melakukan tantingan atau menanyakan sekali lagi sebelum proses akad nikah kepada calon pengantin putri.

Hari kedua prosesi, dilanjutkan dengan ijab dan panggih di keraton. Prosesi inti Pawiwahan Ageng ini dipusatkan di Bangsal Kencono Keraton Yogyakarta. Resepsi dan pamitan yang dihadiri Presiden SBY dan tamu VIP lain, digelar di hari terakhir atau Rabu tanggal 23 Oktober 2013. Sultan telah memobilisasi semua kepada daerah tingkat II di DIY, Camat serta Kepala desa.

Resepsi Royal Wedding Keraton Yogyakarta akan digelar di Kepatihan pada Rabu (23/10) pada pukul 10.00 WIB. Sebelum Royal Wedding akan ada kirab pengantin menggunakan kereta dari Keraton menuju Kepatihan yang bisa dinikmati rakyat biasa seperti saya tentunya.

Gladi Resik
Sebanyak 360 prajurit, 12 kereta dan 68 kuda telah disiapkan untuk parade ini. Kereta-kereta kuda ini akan digunakan saat kirab dari Keraton Yogyakarta menuju tempat acara resepsi di Kepatihan, di kompleks Kantor Gubernur DIY di Jl Malioboro. Masyarakat bisa melihat arak-arakannya di sepanjang rute kirab.

Kereta pengantin akan berangkat dari Keben Kraton diikuti kereta yang akan dinaiki utusan dalem. Dari Keben, rombongan kereta pengantin melewati Jl Rotowijayan, depan Masjid Besar Kauman, Museum Sonobudoyo, baru ke arah utara melewati Jl Trikora menuju Jl Malioboro. Saat rombongan pengantin sampai di depan Museum Sonobudoyo, Sri Sultan Hamengku Buwono X bersama GKR Hemas berangkat dari Pagelaran Kraton.

Rombongan Sultan yang akan berangkat dari Pagelaran akan dikawal 240 prajuri dari empat bregada yakni Wirobrojo, Daeng, Ketanggung dan Mantrijero. Sultan akan menuju Pagelaran melewati Siti Hinggil setelah rombongan pengantin berangkat dari Keben.

Dan bagi para awak media yang meliput di dalam kraton diwajibkan menggunkan Belangkon Yogya Matraman ada mondholan di bagian belakang dan jarik dengan lipatan kain wiru model engkol.

Okay, that's for your information so far..

You Might Also Like

2 komentar

  1. aku jadi inget. Waktu liburan ke yogya bulan mei lalu, sempat nanya sama guidenya, berapa gaji para pengawal kerajaan itu.. ternyata, sebulan mereka cuma dapat 120.000. hmm... sedikit banget ya, tapi kesetiaan mereka pada raja patut diacungi jempol. Coba kalau ketemu sama rombongan buruh di Jakarta, pasti dah dikompori buat demo buruh ke istana deh.

    BalasHapus
    Balasan
    1. lho iya mbak. mereka itu tidak hanya ulet bekerja, namun mereka punya kesetiaan yg tinggi trhdp keluarga sultan. :) Subhanalloh memang

      Hapus